Tentang Api, Angka, dan Mereka yang Menari di Dapur Negara

oleh -394 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Di sebuah negeri yang gemar merayakan gerak, ada satu jenis tarian yang pelan-pelan menjadi bahasa kekuasaan. Bukan tarian yang lahir dari kebudayaan, bukan pula yang tumbuh dari kegembiraan rakyat. Ini tarian jenis lain: tarian yang muncul dari angka-angka, dari dapur-dapur yang mengepul bukan sekadar asap masakan, tapi juga aroma keuntungan.

Di negeri itu, ada seorang lelaki yang menari. Ia menari karena dapurnya menghasilkan banyak uang. Sangat banyak. Setiap hari, angka-angka menetes seperti minyak panas—mengalir deras tanpa jeda.

Ia tidak sedang menipu, tidak pula mencuri secara kasatmata. Ia hanya memanfaatkan sebuah sistem yang memang diciptakan untuk bisa dimanfaatkan.

Dan di situlah persoalannya bermula.

Baca Juga  Ely Toisutta Turun Langsung Potong Daging Kurban, Warga Waiheru Rasakan Kepemimpinan Tanpa Sekat

Sebab sistem itu tidak jatuh dari langit. Ia dirancang. Dibentuk.
Didorong dengan dalih mulia: memberi makan, menyehatkan generasi, menolong yang lemah.

Sebuah niat yang, jika berdiri sendiri, tampak tak tercela. Namun seperti banyak kisah dalam sejarah kekuasaan, niat baik seringkali menjadi pintu depan bagi sesuatu yang jauh lebih rumit di belakang.

Dapur-dapur itu tumbuh.
Satu menjadi tujuh. Tujuh menjadi jaringan. Dan jaringan itu bukan sekadar soal memasak, tapi tentang distribusi kuasa—tentang siapa yang mendapat akses, siapa yang dipercaya, dan siapa yang diuntungkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.