Antara Mazhab dan Sektarianisme

oleh -320 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Selama perang antara Amerika, Israel, dan Iran yang menggelegar, ada gema lain yang tak kalah nyaring. Tapi ia lahir dari tempat yang jauh lebih sederhana: warung kopi, grup WhatsApp, dan ruang-ruang diskusi kecil yang sering kali lebih panas dari ruang sidang PBB.

Tiba-tiba, percakapan melompat dari misil dan Selat Hormuz ke soal lama yang siap menyala kapan saja: Syiah dan Sunni. Seolah setiap konflik geopolitik di Timur Tengah selalu punya “bonus konflik” di kepala umat, yang tak pernah benar-benar selesai sejak berabad silam.

Di satu sisi, suara pembela Sunni mengeras. Mereka berdiri di atas argumen teologis yang sudah lama beredar, dengan alasan membawa amanah menjaga kemurnian akidah. Tuduhan mereka klasik, tetapi tetap ampuh: Syiah mengkafirkan para sahabat utama dan keluarga Nabi.

Tuduhan ini seperti lagu lama yang selalu diputar ulang setiap kali suhu politik naik. Anehnya, wacananya selalu terdengar baru bagi generasi yang belum sempat memeriksa ulang sumbernya. Diskusi jadi ramai, dan tak pernah berujung.

Baca Juga  Israel Luncurkan Sistem Pendaftaran Tanah di Tepi Barat, Jurus Baru Aneksasi Wilayah Palestina

Di sisi lain, para pendukung Syiah tidak tinggal diam. Mereka dengan tegas menolak tuduhan tersebut, bahkan dengan keyakinan yang sama kuatnya. Mereka menegaskan bahwa Islam mereka tidak berbeda: kiblat yang sama, syahadat yang sama, Al-Qur’an yang sama.

No More Posts Available.

No more pages to load.