Bukan Tentang Mahasiswa yang Kehilangan Kompas, Melainkan Mereka yang Merasa Paling Tahu Arah

oleh -30 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Muncul asumsi bahwa mahasiswa yang mengkritik atau menolak suatu program pemerintah sesungguhnya tidak memahami apa yang sedang mereka perjuangkan. Mereka dianggap kehilangan kompas ideologi, tidak menyadari medan pertarungan yang sesungguhnya, bahkan tanpa sadar sedang memperjuangkan kepentingan yang bukan milik mereka.

Sekilas terdengar meyakinkan. Tetapi justru di titik itulah persoalan bermula, sebab yang sedang diuji dalam demokrasi bukan tingkat kesadaran seseorang, melainkan kualitas argumentasinya. Ada ironi yang sulit diabaikan dalam cara pandang semacam itu.

Mahasiswa yang hari ini turun ke jalan sesungguhnya bukan generasi yang lahir dari ruang kosong. Mereka adalah mata rantai dari sejarah panjang gerakan mahasiswa Indonesia.

Di dalam denyut perjuangan mereka masih dapat ditemukan gema dari generasi 1966, generasi 1974, generasi 1978, generasi 1998, dan berbagai gelombang perlawanan mahasiswa yang pernah mewarnai perjalanan republik ini.

Baca Juga  Belgia vs Mesir Berakhir Imbang 1-1, Gol Bunuh Diri Selamatkan Setan Merah

Mereka mungkin menghadapi persoalan yang berbeda. Mereka mungkin menggunakan bahasa yang berbeda. Mereka mungkin mengusung tuntutan yang berbeda, tetapi semangat dasarnya tetap sama: keyakinan bahwa kekuasaan harus terus diawasi dan kebijakan negara harus terus diuji demi kepentingan rakyat.

No More Posts Available.

No more pages to load.