Bukan Tentang Mahasiswa yang Kehilangan Kompas, Melainkan Mereka yang Merasa Paling Tahu Arah

oleh -35 views

Ketika kebijakan pemerintah selalu ditempatkan sebagai representasi kepentingan rakyat, sementara kritik terhadapnya diposisikan sebagai hasil kesadaran yang keliru atau bahkan gema kepentingan asing, maka ruang demokrasi perlahan menyempit.

Padahal kemungkinan lain juga harus dibuka. Bahwa mereka yang mengkritik negara bisa saja melakukannya justru karena merasa negara sedang bergerak menjauh dari kebutuhan rakyat.

Ada satu hal lagi yang sering terlupakan dalam perdebatan semacam ini. Ketika mahasiswa dikritik karena dianggap sedang mengulang narasi tertentu, pertanyaan yang sama sesungguhnya juga layak diajukan kepada mereka yang mengkritik mahasiswa.

Sebab tidak ada gagasan yang lahir dari ruang hampa. Tidak ada analisis yang sepenuhnya bebas dari pengalaman, lingkungan pergaulan, pilihan politik, dan posisi yang ditempati seseorang dalam kehidupan publik.

Karena itu, terlalu mudah untuk mengatakan bahwa mahasiswa sedang dipengaruhi oleh suatu kepentingan, sambil menganggap kritik terhadap mahasiswa lahir dari wilayah yang sepenuhnya netral.

Baca Juga  AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel

Padahal setiap orang berdiri di suatu tempat. Setiap orang melihat kenyataan dari sudut pandang tertentu. Dan setiap pilihan sudut pandang selalu membawa konsekuensi politiknya sendiri. Itulah sebabnya yang perlu diuji bukan siapa yang berbicara, melainkan apa yang dibicarakan.

No More Posts Available.

No more pages to load.