Lenso Putih di Ujung Rindu

oleh -73 Dilihat

Cerpen Karya: Dino Umahuk

Sekitar pukul lima sore, ketika matahari mulai turun di balik garis laut, aku melihat seorang perempuan berdiri di ujung dermaga. Ia mengenakan blus putih sederhana dan rok panjang berwarna biru tua. Rambutnya yang sebahu sesekali diterbangkan angin. Di tangan kanannya tergenggam selembar lenso putih yang beberapa kali ia rapikan karena hampir terlepas diterpa angin.

Aku mengenalinya.

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan seseorang. Tetapi, ternyata juga bukan waktu yang cukup untuk membuatku benar-benar lupa bagaimana rupa perempuan yang pernah menjadi alasan mengapa aku selalu ingin pulang lebih cepat.

Namanya masih sama dalam ingatanku.

Nona.

Baca Juga  Dugaan Penganiayaan Sertu A.H, Danrindam XV/Pattimura Tegaskan Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu

Aku berdiri beberapa meter darinya. Ada keinginan untuk memanggil, tetapi suara itu seperti tertahan di tenggorokan. Aku takut ia menoleh dan ternyata aku hanya sedang melihat seseorang yang kebetulan memiliki wajah serupa dengannya. Aku juga takut kalau ia benar-benar menoleh, sebab selama tujuh tahun aku sudah terlalu sering membayangkan pertemuan ini, dan tak satu pun bayangan itu mempersiapkanku untuk menghadapinya.

Ia akhirnya menoleh.

Tatapan kami bertemu.

“Beta kira ale seng datang,” katanya.

Aku membuang puntung rokok ke tempat sampah.

No More Posts Available.

No more pages to load.