Cerpen Karya: Nadia Luthfita Faadhillah
TAK jauh dari pandanganku, lelaki itu berjalan ke arahku dengan tersenyum bangga. Hari ini, Tuhan memberikan hadiah banyak padanya.
Mulai dari ia lulus dengan nilai terbaik, tak ada masalah dengan guru BK, dan hubunganku dengannya semakin dekat.
“Gue bangga banget, Nad.” Arlan memeluk tubuhku tiba tiba.
Lapangan sekolah sangat ramai dipenuhi kebebasan kelas 12 yang asik melemparkan topi, saling bermain air, sebagai bentuk kelegaan telah melewati ujian.
“Makasih.” Aku membalas pelukan kakak kelasnya itu, sembari mengusap punggung kekarnya. “Udah bertahan sama gue, yang sifatnya kaya gini.”
“Selamat ya.”
Bahagiaku banyak sekali, hari ini. Aku berharap bahagiaku bukan sememtara. Tuhan, bolehkan aku mendekapnya untuk selamanya? Aku butuh dia di hidupku. Sehari tanpanya, aku bagaikan hidup tanpa tujuan.
Adanya Arlan di hidupku, aku merasa hidupku lebih berharga, lebih ceria, lebih bersyukur, lebih dari segalanya.
Aku mohon, Tuhan, kali ini saja kabulkan doaku ini.
“Nad.” Tiba tiba panggilan itu menjadi lirih. Aku khawatir ada apa dengannya?
Aku ingin melepaskan pelukannya, tetapi Arlan semakin mendekap erat. Aku terdiam sesaat. Tak terasa, seragam Osisku bagian bahu basah.
Arlan menangis?









