Porostimur.com, Houston – Memasuki fase gugur Piala Dunia FIFA 2026, setiap pertandingan kini menjadi penentuan. Satu kekalahan berarti pulang, dan tidak ada momen yang lebih menegangkan dibandingkan adu penalti.
Di bawah tekanan besar, para pemain yang telah menguras tenaga selama 120 menit harus berhadapan satu lawan satu dengan penjaga gawang. Dalam hitungan detik, harapan jutaan pendukung sebuah negara bisa berubah menjadi euforia atau kekecewaan.
Dua dari empat pertandingan pertama babak 32 besar Piala Dunia 2026 bahkan harus ditentukan melalui adu penalti. Maroko menyingkirkan Belanda, sementara Paraguay mengalahkan Jerman.
Profesor dari Norwegian School of Sport Sciences sekaligus penulis buku Pressure: Lessons from the Psychology of the Penalty Shootout, Geir Jordet, menyebut tekanan dalam adu penalti dapat mencapai tingkat yang “tidak manusiawi”.
“Dalam penelitian kami, satu-satunya emosi yang disepakati semua orang selalu hadir adalah kecemasan,” ujar Jordet.
Dengan semakin banyak pertandingan fase gugur, peluang terjadinya adu penalti juga semakin besar. Situasi serupa pernah terjadi pada Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar, ketika lima pertandingan ditentukan lewat adu penalti, termasuk partai final yang dimenangkan Argentina atas Prancis.









