Akankah Partai Gelora Layu Sebelum Berkembang?

oleh -66 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Partai Gelora Indonesia sudah menetapkan susunan kepengurusan inti atau Dewan Pimpinan Nasional (DPN) mereka. Partai besutan Fahri Hamzah, Anies Matta, dan sejumlah eks elite PKS lainnya ini hanya tinggal menunggu Surat Keputusan dari KemenkumHAM untuk bisa diresmikan.

Mantan Presiden PKS Anis Matta akan menjadi Ketum Partai Gelora. Sedangkan Fahri Hamzah akan mengisi posisi Wakil Ketua Umum, Mahfudz Siddiq sebagai Sekjen, dan Ahmad Riyaldi sebagai Bendahara Umum.

Meski baru mengumumkan susunan DPN, namun menurut Fahri, akan banyak tokoh-tokoh besar yang merapat ke pengurusan Partai Gelora, termasuk politisi Demokrat Deddy Mizwar. Tak tanggung-tanggung, Partai Gelora menargetkan untuk bisa maju ke Pilkada 2020 mendatang.

Baca Juga  Usman-Bassam Resmi Terima SK PKS

Namun, jalan bagi partai ini untuk bisa mengikuti Pilkada 2020 bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, saat ini proses pendaftaran calon kepala daerah dari independen bahkan sudah dimulai.

Menurut peneliti dan pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, salah satu hal yang paling mungkin dilakukan partai Gelora untuk bisa ikut di Pilkada 2020 adalah dengan mengendorse calon di luar partai. Tak hanya itu, Partai Gelora juga harus punya logistik dan dukungan tokoh yang cukup untuk bisa bertahan di Pilkada 2020.

“Kan enggak cukup dengan ini doang, harus ada dukungan logistik dan tokohnya. Apakah tokoh itu ini juga, dia kan pasti sudah dilamar partai lain juga,” kata Arya kepada kumparan, Senin (11/11).

Baca Juga  Istana Kedodoran, Banyak Isu dengan Gampang Dibalik untuk Menyerang Jokowi
Ketua Partai Gelora (kiri) Anis Matta dan Wakil Ketua Fahri Hamzah. Foto: Muhammad Lutfan Darmawan/kumparan

Jika dilihat dari jajaran kepengurusan inti, menurut Arya, sebenarnya partai ini punya SDM yang cukup berkualitas. Namun, kompetitor mereka sangat banyak yang memiliki kualitas lebih.

“Kompetitor mereka kan banyak juga, terutama dari PKS. PKS ini kan mengalami peningkatan suara di pileg kemarin, artinya migrasi beberapa calon yang keluar itu juga enggak mempengaruhi suara PKS,” ucapnya.

Senada dengan Arya, pengamat politik Adi Prayitno juga menilai pendirian Partai Gelora adalah sebuah perjudian yang luar biasa. Sebab, untuk bisa eksis di tengah persaingan parpol, paling tidak harus ada empat modal utama yang dipenuhi.

Salah satunya adalah keberadaan magnet politik yang membuat publik mau berlabuh ke Partai Gelora. Tak hanya itu, logistik yang memadai dan jaringan yang tersebar di seluruh lapisan bawah juga diperlukan.

Baca Juga  Buku Merah Adalah Bukti. Novel Baswedan Pernah Ungkit Isi Hingga Bantahan Tito Karnavian Soal Tip-Ex

Selain itu, Partai Gelora juga harus memiliki branding dan positioning partai yang tepat dan epic untuk bisa diterima publik. Sebagai pendatang baru, Partai Gelora harus memperluas sasarannya agar tidak layu sebelum berkembang.

“Tak bisa melulu hanya andalkan segmen pemilih Islam dan sempalan pemilih PKS yang relatif masih solid ke PKS. Buktinya, suara PKS di Pileg 2019 naik signifikan,” pungkas Adi. (red/rtl/kump)