Kini tinggal para puteranya. “Sedangkan engkau adalah yang paling utama di antara mereka, saya tidak mengerti mengapa Amirul Mukminin tidak mengangkat engkau menjadi khalifah sesudahnya,” ujar Al-Mughiroh.
Yazid memberi tahu ayahnya akan ide itu. Muawiyah lantas memanggil al-Mughirah dan menanyakan kebenarannya.
“Ya Amirul Mukminin sesungguhnya saya telah menyaksikan pertumpahan darah sepeninggal Utsman maka alangkah baiknya bila engkau mewariskan kekhalifahan itu kepada Yazid, sungguh Yazid lebih berhak menjadi khalifah sesudahmu nanti,” jawab Al-Mughirah.
Akhirnya, al-Mughirah tidak jadi dipecat Muawiyah, malahan disuruh untuk mempersiapkan bai’at bagi penobatan Yazid menjadi putra mahkota. Misi al-Mughirah berhasil dan dapat menggalang penduduk Kufah untuk mendukung Yazid menjadi putra mahkota sepeninggal Muawiyah nanti.
Pemikiran al-Mughirah itu diterima Muawiyah, dengan menunjuk putranya Yazid menjadi khalifah sepeninggalnya, karena dia berkeinginan agar umat Islam tidak terlibat lagi dalam suatu pertempuran karena memperebutkan jabatan khalifah. Sebab, belum lama lagi umat Islam berperang sesamanya dalam Perang Jamal, Perang Shiffin dan mereka belum dapat melupakan malapetaka tersebut disebabkan adanya keinginan orang-orang tertentu menduduki jabatan khalifah.











