Namun di balik semua itu, kita juga perlu jujur melihat: apakah ini hanya soal sepak bola? Atau ini juga tentang bagaimana kita berdamai dengan sejarah kita sendiri?
Ambon tidak sedang kembali ke masa lalu. Tapi ia juga tidak sepenuhnya meninggalkannya.
Dan mungkin, di Lapangan Merdeka nanti, di antara sorak sorai dan gemuruh dukungan untuk Belanda, kita akan melihat satu hal yang paling jujur dari kota ini: bahwa identitas tidak selalu tunggal. Ia bisa berlapis, bisa kontradiktif, dan justru di situlah letak kekuatannya.
Sepak bola hanya kebetulan menjadi panggungnya.
Selebihnya, ini adalah cerita tentang siapa kita—dan bagaimana kita memilih untuk mengingat. (**)









