Amien Rais, Api yang Dipantik—Perlukah Kita Membiarkannya Membesar?

oleh -136 views

Respons berlebihan—terutama melalui jalur hukum—berisiko memperbesar api. Ia bisa memberi panggung baru, memicu solidaritas, bahkan menjadikan pihak tertentu sebagai simbol perlawanan. Dalam ekosistem media sosial yang bising, langkah seperti itu sering justru menjadi bensin tambahan.

Namun mendiamkan sepenuhnya juga bukan tanpa risiko. Ia bisa dibaca sebagai pembiaran, bahkan pembenaran diam-diam.

Di antara dua ekstrem itu, ada jalan tengah yang lebih bijak: merespons secukupnya, secermatnya, dan setenang mungkin.

Istana tidak perlu terpancing untuk masuk dalam polemik personal. Cukup dengan klarifikasi yang elegan, berbasis fakta, dan tanpa emosi. Tegas, tapi tidak reaktif. Menjawab, tapi tidak memperpanjang.

Sementara itu, publik—terutama para tokoh—perlu mengarahkan kritik ke medan yang lebih kokoh: aturan, kewenangan, dan tata kelola kekuasaan. Jika ada yang janggal, tunjukkan dengan data. Jika ada yang melampaui batas, buktikan dengan regulasi. Di situlah kritik menjadi tak terbantahkan.

Baca Juga  Perkuat Infrastruktur SDA di Malut, Kemen PU Bangun Sabo Dam dan Tanggul Sungai

Kita juga perlu membaca tanda zaman: komentar publik yang cenderung membenarkan menunjukkan bahwa api ini punya bahan bakar yang cukup. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, ia bisa menjalar ke wilayah yang lebih luas—politik identitas, polarisasi sosial, bahkan gangguan stabilitas.

No More Posts Available.

No more pages to load.