Oleh: Legisan Samtafsir, Ketum Gernas Indonesia Gemilang
Anies menjadi bintang? Ya, pasti, bahkan fenomenal, karena Anies hadir ketika publik Indonesia muak dengan segudang kepalsuan, fatamorgana, pragmatisme dan oportunisme, yang dilakonkan oleh elit penguasa publik dan juga kliennya (baca: klientisme).
Memang, apa yang kita lihat dan rasakan (dampaknya), perilaku jahat segelintir elit penguasa (dan oligarki di belakangnya) dan kliennya itu, telah sampai pada titik nadir yang mendebarkan: bahkan jika perilaku itu tidak dihentikan, maka bangsa ini akan benar-benar mengalami kehancurannya.
Di grass root, masyarakat menanggung perih akibat mahalnya beras dan sembako, naiknya tarif listrik, pertalite, mahalnya sekolah, kesehatan dan susahnya lapangan kerja. Lalu, para penguasa dengan mudahnya memanfaatkan penderitaan itu dengan melakukan politik gentong babi (pork barrel politic), yaitu memberikan bansos tetapi meminta syarat suara elektoral untuk kekuasaan mereka lagi (Syahganda, www.indonesiagemilang.or.id, 30 Januari 2024).
Para penguasa yang tak bermoral itu benar-benar pragmatis, melakukan yang mudahnya saja, seraya mengkhotbahkan kedermawanannya bak malaikat penolong. Sedangkan rakyat yang susah, betul-betul menjadi pragmatis dengan menerima begitu saja suap politik itu akibat ketakberdayaan dan kebodohannya.








