Antar Surat Kepala Adat Manusela Saat Upacara HUT RI, Mahasiswa Pedalaman Seram Utara Ngaku Jadi Korban Rasisme Aparat

oleh -302 Dilihat
Seorang mahasiswa asal pedalaman Pegunungan Seram Utara mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat hendak menyampaikan surat dari Kepala Tanah Manusela kepada Gubernur Maluku, di sela-sela peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Ambon, Senin (17/8/2026).

Dalam konteks Maluku, warga yang tinggal di pusat Kota Ambon maupun mereka yang bermukim jauh di pedalaman Seram memiliki hak yang sama untuk didengar.

Masyarakat Pegunungan Seram Utara, dengan segala keterbatasan akses yang mereka hadapi, tetap merupakan bagian utuh dari masyarakat Maluku.

Karena itu, persoalan di depan tribun Lapangan Merdeka tersebut tidak semestinya berhenti sebagai cerita tentang seorang mahasiswa dan aparat pengamanan.

Lebih jauh, kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi tentang bagaimana pemerintah dan aparat membangun komunikasi dengan masyarakat yang datang membawa aspirasi, terutama mereka yang berasal dari wilayah pedalaman dan terpencil.

Pemerintah Diminta Buka Ruang Dialog

Pemerintah Provinsi Maluku diharapkan membuka ruang dialog bagi mahasiswa maupun perwakilan masyarakat Pegunungan Seram Utara untuk menjelaskan maksud kedatangan mereka sekaligus memastikan surat dari Kepala Tanah Manusela diterima oleh pejabat yang dituju.

Baca Juga  Prabowo Reshuffle Kabinet, Sarmuji Jadi Menteri Perindustrian

Langkah tersebut penting agar aspirasi masyarakat dari pedalaman tidak terhenti hanya karena persoalan teknis di lapangan.

Jika isi surat membutuhkan penjelasan atau tindak lanjut, pemerintah dapat meneruskannya melalui mekanisme pemerintahan yang berlaku.

Dengan demikian, persoalan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman antara masyarakat dan pemerintah.

No More Posts Available.

No more pages to load.