Antara Basalamah dan Abu Janda, (Belajar Psikologi dari Denialisme hingga Motivated Reasoning)

oleh -935 views

Ustadz yang mengatakan perang itu sandiwara mungkin tidak berniat bohong. Bisa jadi, beliau sedang mengalami apa yang disebut Motivated Reasoning. Ini adalah proses mental di mana otak kita bekerja seperti pengacara yang dibayar mahal. Tugasnya bukan mencari kebenaran, tapi membela klien—dalam hal ini, ego dan identitas kelompok.

Ketika seorang ustadz sudah mengambil posisi, mengakui kesalahan bukan sekadar mengakui salah hitung. Itu sama saja dengan merobek jubah kewibawaan yang sudah dipakai bertahun-tahun. Maka, lebih mudah menganggap dunia yang salah daripada mengakui diri yang keliru.

Mengapa orang sampai setega itu membohongi dirinya sendiri? Mengapa ada manusia yang lebih percaya pada “cerita” daripada “kenyataan”?

Baca Juga  BEM Nusantara Maluku Aksi di Ambon, Soroti Dugaan Penyimpangan Program MBG

Penyebab utamanya bukan sekadar bodoh. Manusia yang menyangkal realitas seringkali orang-orang pintar. Mereka punya gelar, punya pengikut, punya akses informasi. Masalahnya adalah investasi emosional.

Keyakinan politik atau agama bagi sebagian orang bukan sekadar pendapat. Itu adalah identitas. Itu adalah baju zirah. Ketika fakta datang menusuk keyakinan, mereka merasakannya seperti tusukan pedang ke daging sendiri. Maka, mereka menolak fakta itu bukan karena logika, tapi karena insting bertahan hidup.

No More Posts Available.

No more pages to load.