Inilah yang disebut sebagai “penjara kognitif”. Orang terjebak dalam disonansi kognitif. Ada ketidak nyamanan yang luar biasa saat fakta yang kita terima bertabrakan dengan keyakinan yang kita peluk erat-erat.
Untuk menghilangkan rasa sakit itu, otak melakukan sabotase. Fakta dibuang, realitas diputar balik, dan narasi baru dibuat agar kita tetap bisa tidur nyenyak dalam keyakinan lama kita. Ini bukan soal kebodohan, ini soal ketakutan kehilangan identitas.
Banyak orang yang sudah tidak punya rumah lagi di dalam dirinya sendiri. Mereka sudah “menyerahkan” pikirannya, perasaannya, bahkan nuraninya kepada kelompok, kepada ideologi, atau kepada kebencian.
Ketika Anda sudah menjadi bagian dari sebuah kelompok yang “harus benar”, maka Anda tidak lagi punya kebebasan untuk melihat fakta secara objektif. Anda tidak lagi melihat dengan mata kepala, tapi dengan kacamata kelompok Anda. Kalau kelompok saya bilang itu sandiwara, maka itu sandiwara. Kalau kelompok saya bilang itu bukan serangan, maka meskipun bom meledak di telinganya, dia akan tetap bilang itu hanya suara petir.
Khalid Basalamah, Permadi Arya, atau siapa pun tokoh yang kita sebutkan, mereka hanyalah cermin. Mereka memantulkan apa yang ada di dalam diri kita. Jika kita marah ketika mendengar mereka menyangkal fakta, tanya pada diri sendiri: apakah kita juga pernah menyangkal fakta demi kenyamanan kelompok kita? Jika kita tertawa melihat mereka, pastikan tawa itu bukan tawa orang buta yang mengejek orang buta lainnya yang tersandung lubang yang sama.








