Arafat dan Jalan Pulang

oleh -657 views

Oleh: Moksen SirfefaPeminat Sejarah dan Peradaban.

Setelah merengkuh suka-duka kehidupan, kita butuh rehat sejenak ( wuquf) untuk membereskan segala perbekalan menapaki jalan pulang, karena Dia-lah asal dan tujuan kita. Gambaran hidup itu terjadi hari ini di Arafat, padang pengenalan tentang hakikat kedirian manusia.

Arafat merupakan stasiun penghabisan. Lalu manusia membereskan segala debu dosa yang menempel di jasad dan rohaninya dengan memohon agar segala perbuatan tak berkenannya selama hidup ini diampuni dan dengan balasan kenikmatan surgawi di dunia ini maupun dan di akhirat nanti, rabbanâ âtinâ fi al-dun’ya hasanatan wa fi al-âkhirati hasanatan waqinâ ‘adzâba al-nâri (Qs. Al-Baqarah : 201).

Disinilah tempat tertinggi ( al-a’râf) dimana pengetahuan tentang hakikat segala keperiadaan ( ma’rifat) sebagai stasi terakhir jalan rohani para salik. Sang Nabi pun berujar, al-hajju ‘arafat, haji itu sadar diri, siapa aku, untuk apa aku dan akan kemana aku? Pengenalan diri ( ‘arafat) selalu menjadi problem manusia.

Pandai menilai keburukan “di luar” dan lalai menilik kekurangan “di dalam” menjadi problem pribadi yang susah dientas. Ibarat pepatah, “kumang di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”, bahwa manusia selalu cerdas melihat kesalahan orang lain bahkan mengulitinya, sementara ia sendiri tak menyadari kebobrokan yang ada pada dirinya.

No More Posts Available.

No more pages to load.