Namun, akhir bulan lalu, Taliban membatalkan keputusan mereka untuk mengizinkan anak perempuan belajar di sekolah menengah. Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Taliban terkait pembatalan tersebut.
Negara itu juga mengalami krisis ekonomi yang serius setelah negara-negara membekukan aset Afghanistan yang disimpan di luar negeri dan menghentikan bantuan, meskipun beberapa bantuan telah dipulihkan.
Bank Dunia memperingatkan bahwa kondisi saat ini, prospek ekonomi Afghanistan amat mengerikan. Bank Dunia memperkirakan PDB per kapita akan turun 30 persen pada akhir tahun ini dibandingkan dengan 2020, sementara pendapatan per kapita kemungkinan turun sebesar ketiga di bulan-bulan terakhir tahun lalu.
“Ekonomi tidak akan tumbuh cukup cepat untuk meningkatkan mata pencaharian atau menghasilkan peluang bagi 600 ribu warga Afghanistan yang mencapai usia kerja setiap tahun,” menurut Bank Dunia.
(red/republika)




