Belain Ajak Generasi Muda Perangi Islamophobia Terhadap Etnis Uighur dan Tionghoa Xenophobia

oleh -86 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Pimpinan organisasi Bela Indonesia (Belain) menyerukan kepada semua generasi muda milenial, organisasi kepemudaan dan media untuk terus mewaspadai rumor, hoax, informasi palsu dan mempromosikan kampanye anti teror Islamophobia terhadap etnis Uighur, RRC dan anti Tionghoa Xenophobia di Indonesia.

Hal ini menyusul semakin berkembangnya histeria publik media sosial global kian memicu aksi teror Tionghoa Xenophobia (Sikap anti etnis Tionghoa), akibat terus meroketnya angka kematian dari virus Corona. Sejak tanggal 17 Februari 2020, yang mencapai 1.770 jiwa, dan 71.231 orang terinfeksi, termasuk 265 kasus di 29 negara.

Direktur Belain, Abdussalam Hehanussa melalui siaran persnya, Kamis (20/2/2020) menyebut, retorika teror Islamophobia (Sinisme anti Islam) oleh pemerintah RRC terhadap muslim Uighur, telah menimbulkan resiko besar maraknya teror Tionghoa Xenophobia di Eropa, AS dan Asia Tenggara.

Baca Juga  Anggota DPRD Seram Bagian Barat yang Lempar "Kasbi Goreng" Tuai Kecaman Masyarakat

Hal ini menurutnya dapat dilihat pada Jaringan kampanye media sosial Kongres Uighur Sedunia (WUC) di Asia Tenggara, mengajak simpatisan Uighur sedunia untuk bergabung dalam tagar #VirusThreatin dan #WHO2Urumqi, guna mendesak WHO segera mengirim delegasinya ke provinsi Xinjiang yang terdampak wabah virus Corona COVID-19.

Hehanussa menjelaskan, Presiden Kongres Uighur Seduia (WUC), Dolkun Isa, di media sosial terus mengupdate situasi bahaya medis yang dihadapi 2 juta orang etnik Uighur yang dipenjara di Xinjiang, RRC.

“Konten media sosial (WUC), ikut mempengaruhi opini penghotbah agama di Singapura, Abdul Al Halim, yang menganalisis bahwa wabah virus Corona COVID-19, adalah hukuman Tuhan terhadap orang RRC karena menindas umat muslim Uighur”, ungkapnya.

Baca Juga  Perhimpunan Kanal Dirikan Pos Hangat, Taman Ceria dan Darling untuk Korban Gempa di Ambon

“Dewan Agama Islam Singapura (MUIS), langsung mengkonter opini yang bisa memicu perselisihan rasial tersebut”, sambungnya.

Lebih jauh Abdussalam mengatakan, perang mesin propaganda media sosial pro RRC VS pro etnis Uighur, membuat pihak Facebook dan TikTok terus menghapus konten klaim palsu atau teori konspirasi yang terus menginspirasi aksi-aksi kriminal Islam ophobia dan Tionghoa Xenophobia di Jerman. kelompok ekstrimis Pegida Eropa Patriotik, Revolusi Chemitzi dan Komunitas Teror Serigala Putih (WWT) sejak September 2019, semakin aktif menyerang imigran-imigran muslim Turki, Arab dan etnis Asia.

Efeknya, Polisi antiteror terus melakukan penangkapan-penangkapan di enam negara bagian bekas JermanTimur.

Sikap Tionghoa Xenophobia, ditujukan oleh majalah terbesar Jerman, Der Spiegel, yang memberi judul covernya: Virus Corona: Buatan China.

Baca Juga  Uji ketangkasan prajurit, Kodam Pattimura gelar renang 1 Km

Situasi ini mendorong Belain untuk ikut mendukung sikap kewaspadaan nasional Pemerintah Jerman, yang terus melakukan operasi penangkapan terhadap kelompok sayap kanan pendukung aksi teror Islamophobia dan Xenophobia di Jerman.

“Ketika globalisasi berubah menjadi ancaman mematikan berbeda retorika ketika merespon isu etnis Uighur, Kedubes RRC di Jerman, mengecam dangan menyebut media Jerman meyebarkan diskriminasi dan Xenophobia”, tukasnya.

Di sisi lain, Belain juga terus mendukung penuh perhatian serius Kemlu RI, Kemenkes RI, Kemhan RI dan Panglima TNI terhadap kondisi kesehatan fisik dan mental 238 orang WNI yang dievakuasi dari RRC, yang telah selesai mengikuti proses karantina dan disertifikasi bebas virus Corona. (red/rtm)