Untuk saya, statemen FZ ini justru membuka banyak hal. Saya sebenarnya sangat ingin tahu, di mana FZ berada ketika kerusuhan Mei 1998 berlangsung? Apakah dia ada di dalam gedung MPR/DPR ketika mahasiswa berusaha menduduki kompleks tersebut? Bagaimana perasaannya sebagai “aktivis” yang duduk nyaman sebagai anggota MPR ketika didemo?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat hati saya riang untuk sesaat. Namun keriangan itu hilang seketika karena ingat bahwa korban-korban saat itu sangat banyak. Trauma itu masih ada hingga sekarang. Kebencian terhadap minoritas itu, yang dipaksa harus menjadi representasi dari etniknya atau agamanya, masih belum terselesaikan.
Sejarah akan berulang karena kita terlalu bebal untuk tidak meminta pertanggung jawaban pelaku-pelakunya. Kita malah menulis sejarah untuk membuatnya kembali mengkilap. (*)









