BMKG: Musim Pancaroba, Waspadai Cuaca Esktrim di Wilayah Maluku Utara

oleh -64 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate mengingatkan masyarakat khususnya nelayan dan kapal untuk mewaspadai cuaca ekstrim hingga satu pekan ke depan.

Tinggi gelombang diperkirakan dari 0,75-2,5 meter di beberapa wilayah di Maluku Utara.

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Setiawan mengatakan, Maluku Utara saat dalam masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Untuk kemarau diperkirakan baru akan memasuki pada pertengahan Agustus ini.

Link Banner

Di musim pancaroba ini katanya masih terjadi hujan karena didominasi awan konvektif atau mirip bunga kol yang menjulang tinggi. Dan ini terjadi di wilayah Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Barat dan Tidore, Sofifi dan sebagian Ternate.

Baca Juga  Banyak Negara Gunakan Isu Corona buat Bungkam Kritik

Ini katanya dipicu pemanasan yang cukup ekstrim suhu permukaan laut di Maluku Utara, juga didukung pertumbuhan tekanan rendah dari laut Filipina sehingga angin muson dari Australia bertiup kuat hingga wilayah Maluku Utara.

Ditambah angin pasat timur laut yang mengakibatkan wilayah Maluku Utara terbentuk himpunan awan, kemudian adanya pertemuan dua arus massa udara dari utara dan selatan.

“Itulah yang menyebabkan beberapa hari ini hujan hingga diperkirakan pekan pertama Agustus, kondisi cuaca di Malut masih hujan ringan hingga hujan lebat,” katanya.

“Untuk hari ini pun kita prediksi kondisi hujan hingga malam hari dan besok pagi masih hujan ringan hingga sedang,” kata Setiawan lagi.

Baca Juga  Pemprov Maluku dan Pemkab Malteng Terima Penghargaan Dari BNPB

Untuk Senin (3/8/2020) besok pagi, wilayah yang punya potensi hujan sedang hingga lebat yaitu wilayah Tidore, Tobelo, Sofifi dan Sanana, itu terjadi siang hingga sore.

Kemudian tinggi gelombang katanya cukup signifikan di wilayah Maluku Utara, khususnya wilayah selatan seperti Bacan, Obi, ditambah Sula dan Taliabu.

“Tinggi gelombang cukup signifikan yaitu 0,75-2,5 meter, ini perlu diwaspadai, terutama bagi nelayan dan kapal,” ujar Setiawan.

Kondisi seperti ini berpotensi terjadinya pertumbuhan awan konvektif karena kuatnya arus angin, dan ini bukan hanya horizontal tapi vertikal, yakni angin yang sifatnya merusak.

“Kecepatan angin ini bisa sampai 70 km/perjam, namun sifatnya sesaat. Tapi ini perlu diwaspadai di lautan, jika diakibatkan awan ini, terutama nelayan perlu waspadai terutama siang, sore hingga malam hari,” tambahnya. (red)