Pada 2005, dikutip situs pemerintah Inggris, Johnson kembali berhasil mengamankan kursi di parlemen.
Dua tahun setelahnya, London tengah memasuki pemilihan wali kota. Johnson turut mengikuti pemilu ini dan berjanji akan mundur jika terpilih sebagai wali kota. Pada Mei 2008, ia menang tipis atas Partai Buruh yang dipimpin Gordon Brown.
Di pemilihan wali kota selanjutnya pada 2012, Johnson juga kembali terpilih mengalahkan Livingstone. Kemenangan dia menjadi salah satu titik terang Partai Konservatif yang sempat kehilangan pendukung.
Sembari mengejar karir politik, Johnson sejumlah buku dan menghasilkan sejumlah judul. Mulai dari Lend Me Your Ears (2003), kumpulan esai; Tujuh Puluh Dua Perawan (2004), dan The Dream of Rome (2006), sebuah survei sejarah Kekaisaran Romawi, demikian dikutip Britannica.
Johnson kembali ke Parlemen pada 2015, memenangkan kursi London barat Uxbridge dan South Ruislip.
Beberapa kritikus menuduh bahwa ambisi politik pribadi Johnson membuatnya kurang memperhatikan pekerjaan sebagai wali kota.
Di masa genting Inggris, Johson menjadi juru bicara jelang pemilihan referendum nasional soal apakah negara ini akan tetap menjadi anggota Uni Eropa atau tidak. Ia berhadapan dengan Perdana Menteri saat itu, David Cameron.




