BPS diduga tampung ratusan karung sianida

oleh -22 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Meskipun sudah ada penegakan hukum dengan tegas sebelumnya, namun upaya oknum-oknum tak bertanggung jawab menyimpan dan mengedarkan material berbahaya, seolah tiada hentinya.

Kali ini, tim Sub Direkktorat (Subdit) Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Polda Maluku berhasil mengamankan ratusan karung sianida, di lorong Oditur Militer (Otmil) Tantui, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kamis (13/8) sekitar pukul 17.30 Wit.

Sianida yang terbungkus dalam 420 karung ini, berhasil diamankan atas kerjasama poihak kepolisian dan masyarakat.

Saat berhasil dikonfirmasi wartawan, Jumat (14/9), hal ini dibenarkan, Kasubdit Tipiter Krimsus Polda Maluku, AKBP Oni Prasetyo.

Link Banner

Menurutnya, sianida itu dikemas dalam ratusan karung berukuran 25 kg dan disimpan dalam gudang yang diduga milik PT Buana Pratama Sejahtera (BPS).

Hasil olahan informasi sementara, akunya, ratusan karung sianida ini diduga akan diseberangkan ke Kota Namlea, Kabupaten Buru.

Baca Juga  Lagi, 9 ODP Covid-19 Asal Morotai Dirujuk ke Ternate

Saat ini, terangnya, pihaknya akan melakukan pemeriksaan atas penjaga gudang tersebut, Ampy Tahalele.

Meski demikian, pihaknya akan kembali melakukan penghitungan ulang, disebabkan rusaknya salah satu karung.

”Kita akan hitung jumlah Sianida ulang. Karena informasi dari 420 karung ada 1 karung yang sobek. Maka itu kami akan hitung dan teliti ulang,” ujarnya.

Ditanya soal kepemilikan sianida, Prasetyo mrngatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan

Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang akan diperiksa terkait kasus dimaksud, tegasnya, pihaknya baru bisa menyelidiki dan mengembangkan tentang kepemilikan sianida dimaksud.

Diharapkannya, masyarakat tetap menjalin kerjasama dengan pihak kepolisian untuk terus membina dan menjaga kekondusifan dan keamanan di Maluku.

”Kami belum bisa memastikan dan masih dugaan. karena kami harus memeriksa dan menyelidiki dulu,” tegasnya.

Baca Juga  BPBD SBB Tinjau Lokasi Banjir di Dusun Siaputi

Sianida sendiri, acapkali digunakan bersama dengan merkuri untuk memisahkan butiran emas dalam sitem pengolahan emas yakni kolam rendaman.

Menurut penambang tradisonal, penggunaan kedua material ini dinilai paling cepat untuk memperoleh butiran emas.

Sayangnya, dalam penggunaannya kedua metrial berbahaya ini tidak ramah lingkungan.

Pasalnya, sisa limbah pengolahannya dibuang begitu saja, sehingga dapat merusak lingkungan dan mengancam kesehatan manusia yang beraktivitas di sekitarnya.

Sebagai upaya untuk melakukan penertiban penggunaan bahan/material berbahaya ini dalam proses penambangan emas, Polres Buru bekerjasama dengan Kdim 1506/Namlea didampingi aparat penegakan hukum lainnya, berupaya melakukan penindakan di lokasi penambangan emas Gunung Botak, Buru, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, upaya aparat gabungan yang dikoordinir langsung Kapolres Buru, AKBP Aditya dan Dandim 1506/Namlea, Letkol (Kav) Sindhu Hanggara, dihadang ratusan penambang ilegal saat hendak naik ke Gunung Botak.

Baca Juga  Warga Karangjaya Minta Pemkab Buru Perbaiki Jalan

Akhirnya rencana penindakan di lokasi oleh aparat gabungan itupun terpaksa dibatalkan.

Saat berhasil dihubungi via sambungan telepon seluler, Aditya menegaskan bahwa pelaku atau pengguna bahkan penambang tanpa ijin yang menggunakan merkuri dan sianida dapat dijerat dengan UU Penambangan Mineral dan UU Lingkungan Hidup dengan ancaman 10 tahun penjara.

Saat merencanakan penindakan dimaksud, terangnya, piahknya mengantongi informasi bahwa di Gunung Botak terdapat sekitar 1.500 kolam rendaman, untuk proses pengolahan emas secara tradisional.

Meskipun rencana penindakaln di lokasi penambangan belum terealisasi, tegasnya, pihaknya akan tetap berupaya memberantas penggunaan material berbahaya dalam proses penambangan emas tanpa ijin (peti) di Gunung Botak. (keket)