Oleh Dr. Said Assagaf, M.M, Pengajar Pascasarjana UMMU Ternate
Bumi Halmahera hari ini berdiri di persimpangan sejarahnya sendiri—antara berkah yang melimpah dan luka yang kian menganga. Di satu sisi, ia menjelma sebagai episentrum nikel dunia; di sisi lain, ia memikul beban ekologis dan sosial yang tak ringan. Apa yang tampak sebagai “mata air” kemakmuran di hulu, perlahan berubah menjadi “airmata” di hilir.
Data dan riset yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepanjang 2025–2026 menegaskan posisi strategis Halmahera sebagai salah satu pusat cadangan nikel terbesar, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Di Halmahera Tengah, aktivitas hilirisasi yang terintegrasi di bawah kendali PT Weda Bay—dengan legitimasi Proyek Strategis Nasional (PSN)—menjadi jantung dari rantai pasok global, khususnya untuk industri baterai kendaraan listrik.
Produksi nikel mencapai ratusan ribu ton per tahun. Bahkan, sekitar 30 persen daratan Halmahera Tengah telah dikuasai aktivitas pertambangan. Tak hanya nikel, kekayaan emas, mangan, hingga kobalt tersebar luas, dikelola oleh berbagai entitas—baik legal maupun ilegal. Angka-angka ekonomi pun tampak menggiurkan. Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara mencatat nilai ekspor Januari–Maret 2026 mencapai lebih dari US$ 3,8 miliar, dengan dominasi nikel yang terus meningkat.









