Porostimur.com, Ternate – Penobatan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, sebagai gubernur berkinerja terbaik tahun 2026 versi sebuah survei nasional menuai sorotan. Di tengah klaim capaian kinerja tersebut, kritik justru datang dari Center for Budget Analysis (CBA) yang mempertanyakan indikator penilaian di balik penghargaan itu.
Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menilai publik saat ini sedang dihadapkan pada fenomena kepemimpinan yang lebih menonjolkan pencitraan digital dibanding pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ini adalah era Gubernur Medsos. Jika dulu indikator kinerja adalah jumlah sekolah atau jalan yang dibangun, sekarang cukup diukur dari berapa likes, views, dan puja-puji netizen di kolom komentar,” ujar Uchok dalam keterangannya.
Menurut Uchok, minimnya terobosan infrastruktur yang dirasakan masyarakat Maluku Utara memunculkan skeptisisme terhadap penghargaan tersebut. Ia bahkan menduga keberhasilan citra politik itu ditopang oleh penggunaan anggaran daerah dalam jumlah besar.
Soroti Anggaran Tata Rias dan Medical Check-Up
Berdasarkan hasil investigasi CBA, Uchok mengungkapkan bahwa pada Tahun Anggaran 2026, Biro Umum Setda Provinsi Maluku Utara mengalokasikan anggaran sebesar Rp48 juta untuk kebutuhan tata rias gubernur.









