Ibrahim Gibra mengakui, puisi telah memberi pencerahan jiwa, dan tentunya puisi pendek yang berjudul “Atas Nama” sebagai tempat berdamai. Sementara seorang ahli ilmu miutika atau ilmu tangga mengatakan, membaca sebuah teks, letakanlah teks lain ke dalam teks itu, dan anda mengunjan teks tersebut.
“Saya pikir, ini adalah penyalamatan diri dari sekian puisi yang dibaca. Ketika membaca puisi tersebut, ada makna luar biasa dan ada proses yang matang didalamnya. Inilah salah satu titik trigugal dari antologi “Ngoko Kodiho Talalu Susa,” ujarnya.
Menurutnya, kita pada dasarnya mahluk atas nama. Misalnya, atas nama kepandaian, kita bikin sekolah, pembangunan, atas nama tertib sosial, kita tulis ayat-ayat buku, maupun karena atas nama, kita baca dan tafsirkan ayat-ayat yang dikirim tuhan.
Bahwa seluruh aspek kehidupan kita, adalah atas nama. Itu adalah sebuah kekuatan puisi yang membuat kita menjadi lebih baik di masa akan datang.
“Puisi yang saya tulis, saya baru menemukan satu kata lempung. Dalam bahasa Geologi, unsur tanah paling kecil, berwarna-warni yang berdiameter 0,005. Jadi setiap kata yang dipilih penulis itu, sudah pasti dipikirkan secara matang, kecuali orang yang baru menulis, semua kata ditumpahkan kesana,”pungkasnya.




