Porostimur.com | Langgur: Seperti lazimnya masyarakat adat di manapun di dunia, masyarakat adat Kei, Maluku Tenggara juga memiliki tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu tradisi dan budaya masyarakat Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, yang kini terus dipelihara dan dilestarikan adalah adat “Yelim” yang menjadi kearifan lokal untuk menghormati sesama, sehingga perlu terus dilestarikan.
“Yelim merupakan kekayaan masyarakat suku Kei yang perlu terus dilestarikan,” kata Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Porostimur.com, Senin (14/6/2021).
Hanubun mengatakan, “Yelim” merupakan tradisi yang hampir mirip dengan “seserahan”, di mana kelompok masyarakat atau keluarga duduk bersama, mengumpulkan barang atau lainnya, kemudian dihantarkan kepada orang yang sedang mengadakan hajatan tertentu.
“Tradisi ini dikembangkan sejak masa leluhur masyarakat Kei, tanpa memandang status sosial dan agama tertentu,” tukasnya.
Hanubun bilang, tradisi “Yelim” menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Kei. Leluhur mereka merasa saling terikat satu dengan lainnya, tanpa memandang perbedaan antara satu dan lainnya.
Karena itu, pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berupaya untuk melestarikan tradisi tersebut dengan ikut berpartisipasi dalam proses “Yelim” untuk pentahbisan dan peresmian Gereja Katolik Santo Josep di Ohoijang pada hari ini, Senin (14/6/2021).









