Bupati Malra: Tradisi Yelim Wujud Kekayaan Budaya Orang Kei

oleh -41 views
Link Banner

Porostimur.com | Langgur: Seperti lazimnya masyarakat adat di manapun di dunia, masyarakat adat Kei, Maluku Tenggara juga memiliki tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tradisi dan budaya masyarakat Kei di Kabupaten Maluku Tenggara, yang kini terus dipelihara dan dilestarikan adalah adat “Yelim” yang menjadi kearifan lokal untuk menghormati sesama, sehingga perlu terus dilestarikan.

“Yelim merupakan kekayaan masyarakat suku Kei yang perlu terus dilestarikan,” kata Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Porostimur.com, Senin (14/6/2021).

Hanubun mengatakan, “Yelim” merupakan tradisi yang hampir mirip dengan “seserahan”, di mana kelompok masyarakat atau keluarga duduk bersama, mengumpulkan barang atau lainnya, kemudian dihantarkan kepada orang yang sedang mengadakan hajatan tertentu.

“Tradisi ini dikembangkan sejak masa leluhur masyarakat Kei, tanpa memandang status sosial dan agama tertentu,” tukasnya.

Baca Juga  Persit Pattimura Selenggarakan Pembelajaran Pertemuan Virtual

Hanubun bilang, tradisi “Yelim” menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Kei. Leluhur mereka merasa saling terikat satu dengan lainnya, tanpa memandang perbedaan antara satu dan lainnya.
​​​​​​
Karena itu, pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berupaya untuk melestarikan tradisi tersebut dengan ikut berpartisipasi dalam proses “Yelim” untuk pentahbisan dan peresmian Gereja Katolik Santo Josep di Ohoijang pada hari ini, Senin (14/6/2021).

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, kata Thaher, telah mengantarkan “Yelim” mereka kepada panitia pentahbisan dan peresmian gedung gereja Paroki Ohoijang tersebut pada 11 Mei 2021 akhir pekan kemarin.

Kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Malra itu bersama jajarannya itu, memberikan warna tersendiri, karena mereka memakai busana adat Kei, sambil memikul bahan makanan tradisional Kei seperti embal, ubi – ubian, pisang, kacang-kacangan, sayur, kelapa, ikan dan sagu.

Baca Juga  Pemkab Malra Segera Lakukan Penyetaraan Jabatan Eselon IV

Bahan makanan itu, dimasukkan di dalam kamboti yang dianyam dari daun kelapa, sedangkan kelapa dan ikan diikat lalu dipikul, seperti tradisi para leluhur Kei tempo dulu, ketika mengantar Yelim untuk membantu sukseskan acara keluarga dan keagamaan.

Usai pemberkatan dan doa adat oleh Pastor Paroki Ohoijang, RD Sandro Letsoin, Bupati Malra bersama OPD menyerahkan Yelim yang dibawa kepada Panitia Pentahbisan dan Pengresmian Gereja Katolik Santo Yosep Ohoijang.

Bupati Malra, Hi. M. Thaher Hanubun, mengaku tradisi adat dan budaya Kei “ Yelim “ adalah harga diri orang Kei yang harus dilestarikan anak –cucu.

Yelim adalah kekayaan adat dan budaya Kei yang harus terus dijaga, dipelihara dan dilestarikan,” ujarnya.

Hanubun menambahkan, tradisi Yelim ini, juga untuk mendorong masyarakat lainnya agar tetap menjaga tali persaudaraan tanpa memandang status sosial maupun agama.

Baca Juga  Kuasa Hukum USMAN-BASAM Yakin Gugatan Paslon Hello di MK Obscuur Libel

“Saya mencoba mengembalikan atau menghidupkan kembali apa yang dilakukan oleh pendahulu kita, khususnya bagi kami di lingkup pemerintahan,” ujar Thaher.

Sementara itu, Panitia Pentahbisan Gereja Katolik Santo Josep Ohoijang mengapresiasi langkah yang diambil oleh Bupati Malra, M. Thaher Hanubun beserta jajarannya.

“Pemberian pemerintah kabupaten, desa setempat dan kelompok masyarakat lainnya dalam bentuk “Yelim” telah membantu dan meringankan pihak gereja untuk menyukseskan pentahbisan gereja mereka,” Ketua Panitia Pentahbisan Gereja Katolik Santo Josep Ohoijang, Bosko.

“Kami sangat berterima kasih, karena bupati dan jajaran tidak henti-hentinya hadir dan memberi perhatian kepada umat kami di Paroki Ohoijang,” imbuhnya.

(marlon/katim)

No More Posts Available.

No more pages to load.