Wawancara Bocal memunculkan kesan “Jokowi masih orang yang sama seperti dulu”. Sederhana, merakyat, cengengesan. Bukan politikus ambisius yang kecanduan kekuasaan. Sebuah orkestrasi restorasi persepsi, sengaja atau tidak, dilakukan Bocal. Mengingatkan cover laporan utama majalah Tempo, edisi Oktober 2014, Jokowi sebagai “tukang kayu” dengan slogan: kerja, kerja, kerja.
Beberapa tahun setelah cover “tukang kayu” itu, Jokowi jelas banyak berubah. Ia bermetamorfosa menjadi “Leviathan” politik di Indonesia, dengan syahwat kuasa, kuasa, kuasa. Ia defacto adalah mantan presiden dua periode; ayah wakil presiden; ayah ketua partai politik, mertua gubernur. Jaringan politiknya di kepolisian, kejaksaan, Parpol dan birokrasi masih solid. Ia berambisi menyusun konfigurasi politik menuju 2029, sebagaimana ia sukses dengan proyek keberlanjutan pada 2024. Ia tanpa etika dan rasa malu menggelar safari politik untuk berkampanye, tiga tahun sebelum Pemilu..
Di tengah kegaduhan politik akibat kontroversi proyek pemerintah dan Prabowo sering “salah omon-omon”, Bocal mengemas wawancara podcast dengan judul “Manuver Politik dari Solo”. Dilengkapi laporan utama majalah Tempo “Ancang-ancang Jokowi”. Wawancara Bocal dan cover story Tempo seolah menjadi orkestrasi untuk mengembalikan Jokowi ke persepsi yang ia inginkan.









