Dari Cemara Udang ke Tahanan Kejagung

oleh -24 views
Made Supriatma

Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura

Bayangkan saja situasinya. Anda seorang entimologist atau ahli serangga. Ini sebuah profesi yang sangat mulia. Sebagai entimologist, Anda bergaul dengan belalang, kupu-kupu, kepik, wereng, dan sejenisnya. Sesekali, kalau kebetulan, Anda bergaul dengan kumbang tai. Itu biasa dan, sekali lagi, mulia.

Suatu kali, ada pengusaha kaya mantan jendral, yang bapak dan kakeknya sangat terkenal, mengundang Anda ke rumahnya. Untuk satu soal yang sederhana: tanaman Cemara Udangnya terlihat mau mati. Anda yag adalah profesor ahli serangga di sebuah institut pertanian terbaik di negeri ini harus menyembuhkannya. Walau pun tidak ahli, Anda toh tahu dasar-dasar pertanian. Dan wallahuallam Cemara Udang itu pulih dan tumbuh lagi.

Baca Juga  Gaji ke-13 ASN 2026 Mulai Cair, Ini Komponen dan Perbedaan Besarannya

Pemilik rumah mulai bercakap-cakap dengan Anda di kompleks rumahnya yang bak istana itu. Dia terkesan dengan Anda dan Anda pun terkesan dengan dia. Dia bersemangat membicarakan visinya tentang Indonesia ke depan. Anda memberi masukan.

Anda kemudian masuk ke dalam lingkarannya. Ketika dia berkampanye untuk menjadi presiden, Anda diajak dalam tim-nya. Anda bekerja sepenuh hati. Anda memperlihatkan loyalitas penuh Anda. Anda setuju dengan ide-idenya. Anda belajar memahami politik dengan sebaik-baiknya. Dunia yang berbeda jauh dari serangga yang menjadi keahlian Anda. Kesamaannya mungkin adalah sama-sama mengandalkan kekuatan. Siapa yang kuat dia yang menang dan berhak menentukan apa saja termasuk aturan main.

No More Posts Available.

No more pages to load.