Oplosan BBM ini menjadi simbol dari degradasi tata kelola di sektor energi yang semakin kronis. Jika manipulasi dalam skala kecil seperti ini dapat terjadi secara sistematis, maka tidak mustahil bahwa pengelolaan keuangan di dalam tubuh BUMN lainnya juga telah lama dioplos demi kepentingan kelompok tertentu.
Fenomena ini mengarah pada istilah baru: oplosan BUMN. Jika oplosan BBM menipu rakyat dalam bentuk bahan bakar yang tak sesuai standar, maka oplosan BUMN adalah skema besar yang menguras keuangan negara melalui berbagai mekanisme koruptif, mulai dari proyek fiktif, penggelembungan anggaran, hingga manipulasi laba dan investasi yang merugikan.
Yang lebih mencemaskan, mereka yang berperan dalam skandal ini bukanlah wajah-wajah baru. Para pelaku lama yang selama ini gagal menyelamatkan uang negara justru kembali mengisi posisi strategis dalam berbagai lembaga, termasuk yang berperan dalam mengelola dana abadi dan proyek investasi strategis.
Oplosan BUMN ini menjadi lebih berbahaya karena bukan hanya menggerogoti anggaran negara, tetapi juga memperpanjang jebakan middle-income trap yang menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari stagnasi 5% menuju target ideal 8%. Negara yang seharusnya bisa lepas landas menuju ekonomi maju justru tertahan karena kebocoran-kebocoran finansial yang terus terjadi.








