Keterlibatan para guru dari SMP Negeri 39 dan SMA Negeri 19 Maluku Tengah menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mereka memperoleh inspirasi mengenai metode pembelajaran yang lebih inklusif, kreatif, dan berorientasi pada pengembangan potensi serta karakter peserta didik.
Para pendidik juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah maupun relawan. Peran orang tua tetap menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang dan keberhasilan belajar anak.
Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Aboru dengan melibatkan orang tua siswa secara lebih aktif.
Dari Pantai Naira, pesan pendidikan itu menemukan maknanya sendiri. Pelepah sagu yang dirangkai menjadi perahu dan kemudian dilarungkan ke laut menjadi gambaran sederhana tentang harapan generasi muda Lealohi Samasuru.
Melalui kolaborasi anak-anak perantauan, lembaga filantropi, tenaga pendidik, dan masyarakat, Aboru sedang membangun ruang bagi generasi yang lebih percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akar budaya serta identitas negerinya.
(Maichel Koipuy)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com




