Diplomasi Zona Merah

oleh -304 views

Pesimisme yang sejak awal mengintai akan berubah menjadi kesimpulan: bahwa perundingan ini hanyalah formalitas sebelum konflik dilanjutkan dengan babak yang lebih keras.

Dari Washington, keberangkatan delegasi Amerika dipimpin oleh JD Vance, seorang wakil presiden yang tiba-tiba naik kelas dari komentator politik menjadi penjaga pintu perang dan damai.

Pilihan ini bukan kebetulan. Vance dikenal tidak terlalu “haus perang”, sebuah kualitas langka di tengah lingkaran kekuasaan yang sering lebih nyaman berbicara dalam bahasa rudal. Ia bukan diplomat klasik, justru itu yang membuatnya diterima oleh Iran—atau setidaknya, tidak ditolak mentah-mentah.

Sementara dari Teheran, nama Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi muncul sebagai wajah delegasi. Ghalibaf, dengan latar militer dan politiknya, membawa aura ketegasan. Araghchi, diplomat kawakan, adalah bahasa halus dari Iran yang keras.

Kombinasi ini seperti dua sisi koin: satu untuk menunjukkan bahwa Iran tidak bisa ditekan, satu lagi untuk memberi harapan bahwa Iran masih bisa diajak bicara.

Baca Juga  Operasional Rumah Kemasan Ambon Terkendala Pencurian, Disperindag Tunggu Pemulihan Anggaran

Optimisme tetap ada, seperti lampu kecil di ujung lorong panjang. Bahwa setelah semua opsi gagal — sanksi, tekanan ekonomi, bahkan perang terbuka — meja perundingan menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.

No More Posts Available.

No more pages to load.