Dua Lelaki & Tiga Puisi Lain Nuriman Bayan

oleh -34 views
Link Banner

DUA LELAKI

Kita adalah dua lelaki yang lahir di bumi yang sama dengan usia yang berbeda.

Aku lahir di Galela, tumbuh di Loloda, besar di pelukan lembut, keras, dan tegas:
di jalan-jalan yang legan, di dada-dada yang lapang, di rumah-rumah yang beberapa tak ingin lagi aku kenang.

Kamu lahir di Galela, tumbuh di Loloda, tumbuh di Weda, tumbuh di Morotai, tumbuh di jalan-jalan tualang kami, di pelukan papa-mamamu:
papa yang terus-terus belajar mengasihi
mama yang terus-terus belajar menyayangi
agar kamu tumbuh dan besar dalam cinta dan kasih.

Sedari lahir kami telah membawamu ke mana-mana
agar besar kamu bisa memilih jalan yang mana.

2022

========

DI SEPANJANG JALAN SISWA

Di sepanjang jalan siswa
lampu-lampu adalah aku yang menatap kekosongan
trotoar adalah aku yang siang terbakar matahari
malam dipeluk-peluk sepi

aku merindukan kau datang dengan buku-buku
yang kau bawa dari rak-rak dan meja-meja sepi
kau letakkan di sini sebagai sebuah panggilan
biarkan anak-anak itu datang bermain sambil
membacakannya dengan bahasa sendiri

Baca Juga  Empat Puisi Nuriman Bayan

aku merindukan kau yang suka berteriak revolusi
datang ke sini menemani malam-malamku yang sepi
malam-malamku yang kosong, malam-malamku yang terlalu berisik
oleh dentuman kenalpot dan suara-suara malam yang pelot

aku merindukan kau datang dan membawa aku pergi dari kesepian ini
meninggalkan malam-malamku yang malang, menemui malam-malamku yang tenang:
malam-malam yang tak hanya ada aku dan kau
malam-malam yang di dalamnya kita sama-sama
menjadi mata lampu, menjadi mata cinta.

Esok malam, maukah kau datang untukku?

Untuk rindu yang kau bilang, harus kita tuntaskan. Maukah kau?

2022

======

JANGAN BILANG AKU TAK MERINDUKANMU

Jangan bilang malam ini aku tak merindukanmu
sebab mata lampu yang berbaris di sepanjang jalan
di antara trikora, taman kota, jalan siswa, dan mesjid raya
tak juga dapat menerangi gelapnya rindu di dalam dada

Baca Juga  Paras Cantiknya Tak Luntur Meski Usia Nyaris Setengah Abad, Sophia Latjuba Bikin Netizen Pangling Usai Unggah Foto Berhijab

cahayanya hanya setitik lampu di lautan jauh, tak lebih terang
dari lampu stongkeng yang kau nyalakan di suatu sore, di atas laut
saat matahari kembali dan kau begitu sibuk mengikat senar dan mata kail.

Jangan bilang malam ini aku tak merindukanmu
sebab selain Tuhan, ibu, ayah, istri, anak, saudara, lautan, kebun, kamu, dan semua yang menyusuiku
aku tak punya rindu yang lain, aku tak punya cinta yang lain.

2022.

======

DI HARI-HARI HUJAN BEGINI

1)
Di hari-hari hujan begini
aku ingat dada, tangan, dan kakimu
tiga bagian tak pernah tuntas aku hitung
mukanya, lukanya, dukanya, sukanya

aku harap angin tak kencang siang ini
dan kau masih ingat cara memanggil hujan
ku-ku-ku ku-ku-ku
agar ia turun sederas-derasnya
agar pohon-pohon itu
tertidur sebasah-basahnya

Baca Juga  Ikonik dan Menarik, Rupanya Ada Kelebihan Tersendiri Hyundai Creta yang Cukup Unik serta Mewah

aku harap angin tak kencang siang ini
dan daun kelapa di tangan itu telah selesai
kau lepaskan dari mafafanya, dari tangkainya.

2)
Di hari-hari hujan begini
aku ingat daun pisang, sosiru
dan sebuah sungai di dadamu
tempat aku berenang sambil mengejar
kelapa dan patahan kayu berlari ke laut

aku harap kau masih ingat
cara memegang daun dan sosiru
seperti waktu itu saat hujan turun berderas-deras
di bawahnya tangan kita tak ingin saling melepas
padahal di mata kita banjir begitu deras.

3)
Di hari-hari hujan begini
aku cuma ingin mengajakmu pulang
kita berjalan tanpa payung
kita bergenggaman di bawah daun
seperti waktu itu kita di kebun
di bawah pohon penuh embun.

2022

=======

No More Posts Available.

No more pages to load.