Erotisme Maluku

oleh -132 views
Link Banner

Oleh: Moksen Idris Sirfefa, Alumni IAIN Ternate, Tinggal di Jakarta

Nusantara (kini Indonesia) pada abad ke-16 bukan saja sebagai pusat rempah (spice roots) tapi juga merupakan jalur rempah (spice route) yang menghubungkan tiga kawasan penting dunia; Pasifik, Atlantik dan Mediterania.

Komoditas ekonomi yang merajai dunia saat itu hanyalah rempah-rempah dan Indonesia adalah sentrumnya. Rempah-rempah di era itu berperan mempengaruhi keputusan-keputusan penting di bidang politik, ekonomi dan sosial-budaya dalam skala global.

Sebagai axis perdagangan global hingga abad ke-19, penduduk Nusantara hanya menjadi pemasok dengan imbalan yang tak sebanding, sementara negara-negara Eropa, Tiongkok dan India sudah menjadi “pemain” sekaligus penikmat rempah-rempah Nusantara itu.

Link Banner

Pala dan cengkeh merupakan dua komoditi awal yang memikat hati para penjelajah dunia yang hanya dapat ditemukan di Maluku. Pala dan bunga pala menjadi penambah rasa bir kemewahan Eropa yang menghiasi daya tarik ini pada abad ke-18 diikuti kayu manis, kopi, teh, lada, vanila, sereh, jahe, kapulaga dan ratusan varian tumbuhan rempah lainnya hingga memasuki abad ke-20.

Jika ditilik dari sisi sejarah, Amerika bisa sebesar saat ini karena niat awal bangsa Eropa ingin menemukan pusat rempah. Kata spice sendiri akhirnya tidak sekedar bumbu penyedap tetapi sebuah sensasi yang penuh gaung masa lalu, sarat dengan kekayaan cita rasa dan konsekuensi di luar nalar (Jack Turner, Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme, Komunitas Bambu, 2011, h. xviii). Ia menerobos dapur penghuni pulau-pulau kecil di Timur lalu menempati kasur istana raja-raja di Barat.

Kebutuhan akan rempah-rempah bukan diawali dari Eropa. Orang Mesir kuno jauh sebelum itu membutuhkan rempah-rempah sebagai zat pengawet dan perasa.

Mereka mengimpor jinten, kayu manis dan kayu cendana untuk membalsem jasad-jasad firaun mereka. Sementara para apoteker dari Perjanjian Lama menumbuk rempah-rempah untuk salep bagi kuil-kuil mereka. Bangsa Romawi menggunakan pala dan biji adas manis untuk mengawetkan daging dan membumbui anggur mereka. Tetapi jauh sebelum itu, sejak abad ke-7 (abad ke-1 Hijriah), aromatika Nusantara seperti kapur barus, kemenyan, kulit lawang (masohi) dan gaharu telah menyeruak kawasan suci Ka’bah di Makkah.

Pada masa Chaucer, rempah-rempah seperti itu telah menjadi kemewahan yang langka. Dalam Canterbury Tales, Sir Topaz yang gagah berani berbicara tentang kerinduannya akan roti jahe, permen hitam dan bir rasa “notemuge” (pala).

Pada masa Shakespeare dituliskan, kurang lebih 20 tahun sebelum Inggris mendarat di pulau Run Banda Maluku, kemewahan seperti itu telah menjadi kemewahan yang umum. Sepanjang Abad Pertengahan, Venesia menguasai jalur rempah dengan tangan besi. Pala, cengkeh, lada dan kayu manis diangkut menyeberangi Asia ke pusat perdagangan besar Konstantinopel, tempat para pedagang Venesia membelinya dengan cepat dan mengapalkannya ke arah barat melintasi Mediterania. Dari sini rempah-rempah itu dijual, dengan harga yang telah dilambungkan kepada para pedagang dari Eropa utara.

Baca Juga  Habisi Nyawa Warga, Dua Remaja di Bitung Dibui

Saat Marcopolo berlayar ke Tiongkok pada 1271, monopoli Venesia atas rempah-rempah menjadi utuh, tapi tak seorang pun dari Barat pernah mengunjungi tempat rempah-rempah berasal. Marcopolo adalah orang pertama Eropa yang menggambarkan pohon cengkeh, “sebuah pohon kecil dengan daun-daun seperti salam”yang tumbuh di Tiongkok daratan. Padahal dia dan orang-orang Venesia tidak tahu, bahwa pohon tersebut hanya bisa ditemukan di sedikit pulau (spice islands) di Nusantara.

Kuasa Jin?

Di pulau Ternate dan pulau Tidore terdapat kesenian tradisional berupa Tarian Jin (Salai Jin) yang sarat dengan nilai magis. Tarian ini adalah bentuk hipnoterapi, sebagai intrumen komunikasi mistik antara manusia dan jin di alam gaib.

Misalnya meminta bantuan jin melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dilakukan oleh manusia, antara lain mengobati penyakit salah seorang anggota keluarga yang tak kunjung sembuh. Di antara penari yang kerasukan jin asing (trance) dapat berkomunikasi dengan bahasa asing, Inggris, Cina, Parsi, Arab dan lainnya.

Raja Salomo (Nabi Sulaiman a.s.) menggunakan teknik ini (memerintah jin) untuk melakukan penjelajahan ke semua tempat di muka bumi. Beliau dipercaya memiliki daya ismu al-adhzam, sehingga para tetua sering menasehati apabila hendak memetik tumbuhan herbal (rorano), harus terlebih dahulu mengucapkan salam kepada putra Daud ini.

40.000 tahun lalu, kayu gaharu, damar, getah kayu masohi (myrh), kulit lawang, pala dan cengkeh telah masuk negeri Punt (kini termasuk wilayah Somalia, Sudan, Eritrea, Jibouti dan Yaman).

The Queen of Sheba (Ratu Balqis) gandrung akan wewangian. Konon, setiap malam, sebelum tidur sang Ratu selalu mengolesi minyak pala dan cengkeh di kakinya yang mengantarkan ia lelap dalam peraduan. Negeri Punt (Saba) adalah pintu gerbang rempah-rempah Nusantara. Rempah-rempah “khas Timur” selalu berhasil masuk sampai ke Mesir.

Ratu Hatsepsut (1507-1458 SM), Firaun perempuan Raja Mesir Kuno yang ke-5 dari Dinasti ke-18 tak kalah gandrungnya dengan rempah-rempah Timur ini. Sebagai seorang Ratu, kebutuhan apalagi selain balsem bagi mayat para pendahulunya, setiap wanita pasti tak lepas dari aromatika jamuan rempah-rempah.

Dia mengirim ekspedisi besar dari Mesir menuju Punt, pusat rempah-rempah Timur di tanduk Afrika itu. (Lihat, Michael Velikovsky, Ages in Chaos, 1952, khusus chapter III, “The Queen of Sheba”, : 103-141).

Bagaimana pun, wewangian herbal wanita memiliki daya tarik erotis sekaligus daya takluk luar biasa bagi kaum lelaki. Di belakang hari, penaklukan Sulaiman atas Ratu Bilqis, terlepas dari misi ketuhanan, tersirat risalah erotis yang memukau bagi Sulaiman atas pesona Ratu Pantai Selatan Arabia itu (Lihat, Waheeda El-Humayra, The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba, 2008).

Hubungan sejarah rempah yang panjang, khusus cengkeh sebelum Salomo dan Kristus, Turner menulis :
“….dimulai dari segenggam cengkeh yang ditemukan dalam sebuah wadah keramik yang terbakar di gurun pasir Suriah, dimana dulu di sebuah kota kecil di tepi sungai Efrat, seseorang bernama Puzurum harus kehilangan rumahnya yang terbakar hangus. …api yang menghancurkan rumahnya ternyata telah membakar lembaran tanah liat yang rapuh itu menjadi sekeras bila dibakar pada tempat pembakaran biasa. Oleh karena itu, lembaran tanah liat tersebut dapat terselematkan (oleh para arkeolog – pen) walau sudah beribu-ribu tahun lamanya. Kebetulan kedua adalah referensi dari salah satu lembaran tersebut kepada penguasa setempat yang dikenal dengan nama Raja Yadihk-Abu. Namanya menandakan waktu terjadinya kebakaran dan usia cengkeh, yaitu medio 1721 SM.” (Turner, h. xix).

Baca Juga  Sebulan buron, tukang ojek begal pun diringkus polisi

Lebih lanjut Turner, in extenso :
“Fakta terselamatkannya cengkih sudah cukup mengejutkan, namun yang lebih luar biasa lagi adalah keanehan botani yang terkait dengannya. Sebelum masa modern, cengkih tumbuh di lima kepulauan kecil volkanik di daerah timur jauh yang sekarang menjadi kepulauan Indonesia, yang terbesar hanya selebar kurang dari sepuluh mil. Karena cengkih hanya tumbuh di Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Bacan, kelima pulau ini menjadi populer pada abad ke-16, Maluku-nya fable pelaut dan fantasi saudagar, serta harta yang diperebutkan kerajaan-kerajaan yang terpisah setengah perjalanan dunia. Cervantes bahkan menggunakan persaingan Ternate dan Tidore sebagai latar eksotis yang sesuai untuk novelnya The History of Ruis Diaz, and Quixaire, Princess of the Moluccas. Namun sebagaimana menakjubkannya Maluku dalam literatur abad ke-16, di era Puzurum, pulau tersebut tidak memiliki eksistensi di alam khayal sekalipun. Saat itu adalah masa dimana orang Mesopotamia menuliskan narasi yang seragam mengenai sang pahlawan Gilgamesh, ketika orang-orang primitif Humbaba mendiami hutan sidar di Libanon dan ketika jin serta makhluk setengah-singa setengah-manusia menjelajahi bumi. Namun, berabad-abad sebelum ditemukannya kompas, peta dan besi, ketika dunia masih merupakan tempat yang jauh lebih luas dan tidak terbayangkan daripada sekarang, cengkih dapat berpindah dari Maluku ke gurun pasir kering di Suriah. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan siapa yang membawanya, hanya Tuhan yang tahu.” (Turner, h. xx).

Hikayat Gosora se Buwalawa

Dua karya Ian Burnet, Spice Islands (2011) dan East Indies (2012) menyebutkan pencarian rempah-rempah, terutama lada, cengkeh, dan pala, menjadi pemicu awal kedatangan orang-orang asing itu di negeri kita. Seperti disebutkan Burnet pada periode 50 SM hingga 96 M, pelabuhan Alexandria di Mesir menjadi pusat perdagangan rempah yang dibawa pedagang India. Dari Alexandria, rempah menyebar ke Jazirah Arab dan Eropa, terutama ke Romawi. Bagi bangsa Romawi kala itu, lada, cengkeh, dan pala merupakan barang berharga, setara emas dan sutra. Rempah itu tak hanya digunakan untuk penyedap makanan, tetapi obat segala penyakit, termasuk untuk menambah gairah seksual.

Baca Juga  DDII Ikut Bantu Pengungsi Korban Gempa di Maluku

Tatkala Kaisar Augustus memegang kunci gudang harta Romawi, dia tak tahu lagi bagaimana menghamburkan emas yang dirampas dari seluruh daerah di Barat. Permintaannya terhadap rempah dan barang-barang eksotik dari dunia Timur kian menggila. ”Romawi yang mewah dan bercita rasa tinggi menginginkan produk-produk eksotik yang sudah langka di India.

Salah satu buku yang membahas panjang lebar soal pengaruh herbal rempah-rempah timur dengan “ketajaman pelana lelaki” adalah yang dikonstruksi oleh Andrew Borde dalam Dyetary of Health, pala bisa mengobati demam di kepala, menyamankan pandangan dan otak. Koktail pala produksi rumahannya bukan hanya membersihkan mulut lambung dan limpa, tapi baik juga untuk menghentikan pendarahan perut, sebuah turunan disentri yang berbahaya dan mematikan.

Borde sendiri mengakui bahwa pala bisa mengobati penyakit mani encer dan ejakulasi dini sementara dia sendiri hidup dalam kondisi selibat dan susah orgasme. Bukunya sedikit bercampur tahayul dan cerita-cerita rakyat tapi bagus dibaca sebagai perbendaharaan, saran Giles Milton, Nathaniel’s Nutmeg (1999).

Cengkeh dan pala (Ternate : gosora se buwalawa, ada yang menulisnya “balawa”) mengandung zat perangsang nafsu birahi yang sangat kuat. Charles Sackivile yang cabul, Earl keenam dari Dorset, bergurau bahwa libido begitu rendah sehingga bahkan Cleopatra menggunakan “pala, bunga lawang dan jahe” di atas peselingkuh Roma-nya, ia pasti gagal untuk menggairahkan daerah kemaluannya.

Tentang kecantikan, kecerdikan, kekuasaan, Ratu terakhir kerajaan Mesir Kuno ini selalu tampil harum dengan rempah-rempah dari Timur (Hans Anders, In the Name of Cleopatra, 2020). Bahan-bahan rempah itu, oleh Milton, jarang gagal untuk menimbulkan efek kejantananannya, karena ia tahu bahwa sesendok penuh cengkeh dan pala sebelum tidur bisa menyebabkan mimpi-mimpi yang indah tanpa akhir, tapi bermasalah:

“Dreaming last night on Mrs. Farley, p…k was up this morning early,
And Iwas fain without my gown
To rise in the cold to get him down
Hard shift, alas,but yet a sure,
Although it be no pleasing cure.”

(Tadi malang beta mimpi Manyira Farley, Beta pung “jahanam” ini bangun pagi-pagi fruk, Dan beta nafsu sampe lupa pake baju, Paksa bangun untuk kasi todo ini barang tapi sia-sia, Siokona, so pasti, Ini barang bukang oba sambarang).

Seperti yang disebut Milton, kecintaan Sackville terhadap cengkeh dan pala ternyata menyebabkannya bermasalah. Tetangganya, Semuel Pepy mencatat bagaimana ia dipenjara karena perbuatannya yang tak senonoh “after running up and down all night almost naked through the street” (setelah satu malang fol lari batalanjang kaliling kampong) gegara Gosora se Buwalawa!