Gaji 2,6 Milyar Per Tahun

oleh -350 views

Berita seperti ini selalu menarik perhatian saya. Menarik karena menceritakan tentang hidup seseorang yang “sudah selesai.” Ya, hidup yang sudah paripurna. Selesai.

Penghasilan seperti itu di Indonesia mungkin hanya bisa dicapai oleh anggota DPR. Bahkan Komisaris perusahan BUMN dari jalur relawan tidak akan mendapat gaji sebesar itu. Lagipula untuk menjadi Komisaris, Anda harus jadi relawan dulu. Untuk jadi relawan, Anda harus jadi aktivis dan pintar omong-omong Kiri dan kutip Marx, Che Guevara, atau minimal Tan Malaka.

Imajinasi yang muncul dari gaji besar itu sepenuhnya materialistik. Si penanggap pertama menulis kalau dia punya gaji segede itu, pasti “udah punya rumah gede kek kluarga kaya di indosiar.”

Baca Juga  Brasil Ditahan Maroko 1-1, Persaingan Grup B Piala Dunia 2026 Kian Ketat

Tidak ada yang salah dengan imajinasi materialistik. Hanya saja, ia tumbuh dalam karakter masyarakat hyper-religius, yang menyerahkan semua urusan kepada Allah. Hidup, mati, dan rejeki adalah urusah Yang Maha Kuasa, demikian sering kita dengar.

Dan, terakhir, ada imaji yang lain yang tumbuh dari gaji US$176k per tahun ini. Banyak orang mengaitkan dengan kebanggaan kebangsaan. “Seorang warga Indonesia mendapatkan pekerjaan dengan gaji 2.6 milyar per tahun,” demikian kalimat pembuka artikel ini. WNI adalah bagian yang penting. Ia bukan WN Malaysia. Bukan Filipin atau Singapore. Bukan Jepang atau Korea. Apalagi Jerman atau Itali. Dia WNI!

No More Posts Available.

No more pages to load.