Gambaran Ketika Nyawa Dicabut Menurut Imam Al-Ghazali

oleh -40 Dilihat
Ketika nyawa dicabut saat itu manusia benar-benar mengalami kepayahan. Jika saja ia mampu berteriak, ia akan berteriak karena rasa sakitnya. Foto ilustrasi/ist

Dalam satu kajian Gus Musa Muhammad menceritakan bagaimana gambaran saat nyawa dicabut dari tubuh manusia. Gus Musa menukil keterangan Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya Ihya Ulumuddin.

Siapakah yang ingin mengetahui besarnya penderitaan saat Sakaratul Maut. Pedihnya tidak dapat diketahui dengan sebenarnya kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Kita pada saatnya nanti akan merasakan kepedihan itu.

Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menyebut Sakaratul Maut hanya dialami makhluk yang memiliki roh. Roh-lah yang sejatinya merasakan kepedihan Sakaratul Maut. Jika badan seseorang terimpa luka, bekas kepedihan fisik itu akan menjalar sampai ke roh. Jika ia terbakar, rasa sakit yang dialami badan akan terasa pula oleh roh.

Baca Juga  Buka Peluang Pendidikan dan Ekonomi Warga, PLN Terangi Dusun Wansar di Pulau Buru

Saat kepedihan pencabut nyawa menyerang roh, rasanya akan menenggelamkan semuanya. Rohlah yang ditarik dari badan. Dicerabut dari tiap urat badan, ditarik perlahan dari urat saraf, dari sendi-sendi dari pokok setiap rambut dan kulit dari ujung kepala hingga tapak kaki. Tergambar betapa menyakitkannya.

Manusia pada hari itu benar-benar kepayahan. Seorang penyair pernah berkata tentang Sakaratul Maut. “Sungguh kematian itu lebih sakit daripada pukulan dengan pedang, gergajian dengan gergaji, dan guntingan dengan gunting.”

No More Posts Available.

No more pages to load.