Tiga Presiden Indonesia yang terpilih secara demokratis sejak 1999, berasal dari keluarga politik, agama, atau militer yang kuat, dan masih mempunyai pengaruh dalam politik sebagai ketua partai politik mereka.
Tapi, Jokowi tidak memiliki koneksi sosial dan kelembagaan tersebut, namun dia berusaha mengamankan masa depan politiknya dengan memanfaatkan dua hal yang ia miliki: tingkat persetujuan yang tinggi dan kendali atas lembaga-lembaga negara.
Hasil survei terus-menerus menunjukkan bahwa peringkat dukungan terhadap Jokowi dapat meningkatkan perolehan suara bagi kandidat atau partai mana pun yang didukungnya.
Meskipun menghindari dukungan yang berisiko secara politik, Jokowi condong ke arah mantan saingan resminya, Praboeo, karena Prabowo secara terbuka berkomitmen untuk melanjutkan kebijakan pemerintahan Jokowi.
Agar komitmen ini dapat dipercaya, Subianto mempertimbangkan putra sulung Jokowi untuk menjadi pasangannya. Gibran, wali kota kampung halaman ayahnya yang berusia tiga puluh lima tahun, tidak memenuhi batasan usia untuk pencalonan.
Mengamankan basis kelembagaan untuk kekuasaan juga merupakan prioritas bagi Jokowi, yang banyak dikabarkan mengincar kepemimpinan Partai Golkar atau Partai Gerindra pimpinan Praboeo.









