Jarak tipis Golkar dengan PDIP menjadi salah satu poin penting dalam temuan survei tersebut. Dengan selisih hanya satu persen, posisi kedua dan ketiga memperlihatkan persaingan yang relatif ketat di antara dua partai dengan basis politik yang telah lama mengakar.
Golkar Ditopang Pemilih Lama dan Persepsi Kinerja
Menariknya, kekuatan Golkar dalam survei tersebut tidak hanya tercermin dari angka elektabilitas, tetapi juga dari alasan masyarakat menjatuhkan pilihan.
Dari delapan partai politik yang memiliki elektabilitas di atas 5 persen, pemilih Golkar paling banyak menyebut faktor sudah memilih partai tersebut sejak dulu, yakni sebesar 14,1 persen.
Alasan berikutnya adalah karena responden sudah mengenal partainya sebesar 11,4 persen. Sementara 6,7 persen lainnya menilai partai tersebut bagus.
Temuan itu memperlihatkan bahwa Golkar masih memiliki basis pemilih yang relatif bertumpu pada pengalaman dan pengenalan terhadap partai, di samping persepsi positif terhadap institusi partai.
Berbeda dengan Golkar, elektabilitas Gerindra dalam survei tersebut sangat kuat dipengaruhi faktor figur. Sebanyak 29,2 persen pemilih Gerindra menyatakan memilih karena menyukai sosok Presiden Prabowo Subianto.
“Pertama, alasan memilih Partai Gerindra itu paling dominan karena faktor suka terhadap Prabowo Subianto 29,2 persen, sudah kenal partainya 9,2 persen, dan kinerja dirasakan/terbukti 7,6 persen,” kata Adi.









