Mahasiswa tersebut diketahui hendak menemui Gubernur Maluku untuk menyampaikan surat dari masyarakat adat Desa Manusela, Pulau Seram.
Dalam video yang beredar, pengawal gubernur tersebut terdengar melontarkan ucapan yang kemudian dinilai sejumlah pihak mengandung unsur rasial terhadap mahasiswa.
Insiden tersebut berlangsung setelah upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka, Ambon, Senin (17/8/2026).
Viral di Media Sosial, Organisasi Pemuda dan Mahasiswa Bereaksi
Potongan video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu reaksi publik.
Sejumlah organisasi pemuda, mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan turut mengecam pernyataan serta tindakan pengawal pribadi gubernur tersebut.
Polemik itu kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai etika pelayanan pejabat publik, perlindungan terhadap mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi, hingga dugaan penggunaan ungkapan yang bernuansa rasial dalam ruang publik.
Gubernur Hendrik Lewerissa sendiri menegaskan bahwa pengawal pribadinya telah meminta maaf atas kejadian tersebut.
Namun, pernyataan maaf tersebut belum serta-merta meredakan seluruh desakan publik yang menginginkan persoalan itu ditangani secara proporsional sesuai mekanisme hukum dan aturan yang berlaku.









