Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta
Lebanon selatan, 29 Maret 2026. Ada air mata duka di Langit Beirut, satu prajurit TNI terbaik kita telah gugur. Ketika dada kita masih sesak dan nyeri akibat tangis, esoknya dua prajurit lagi menyusul sebagai martir. Mereka diserang dengan sengaja oleh tentara Israel (IDF). Padahal mereka tidak terlibat konflik. Ada di sana, berdiri dari mengemban misi perdamaian.
Ketiganya adalah Kapten Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Romadhon. Nama-nama itu kini bukan lagi sekadar nama dalam daftar absen pasukan perdamaian. Tetapi, mereka sudah berbaring abadi dan menjadi korban “Israel” di tanah asing. “Pelindung” kemanusiaan yang tumbang oleh angkuhnya artileri zionis.
Ingatan kita tentang kesewenangan IDF, mungkin selama ini tertuju hanya pada rakyat Gaza, atau pada paramiliter Hizbullah dan Iran, tapi kali ini pada pasukan kita. Merah putih kita. Tentara dan kebanggaan bangsa Indonesia. Tentu saja kita menunggu langkah konkret dan tegas apa dari presiden, sejak hari pertama. Hari kedua dan hari ketiga.
Kita menatap layar gawai saat demi saat, telinga kita menajam menunggu detak empati dari puncak kekuasaan. Apakah Indonesia akan keluar dari BoP? Atau menarik seluruh sisa pasukan? Bukankah tiga nyawa muda ini adalah bagian dari “pertaruhan” kebijakan? Mereka dikirim bukan untuk healing dan piknik. Mereka adalah perpanjangan tangan negara yang membawa amanat UUD 1945—ikut melaksanakan ketertiban dunia.










