Hadiri Undangan Kemendikbud, Bupati Danny Paparkan Potensi Rempah di Malut

oleh -43 views
Link Banner

Porostimur.com | Jailolo: Pelaksanaan Festival Kepulauan Rempah yang dibuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Barat (Halbar) tahun lalu, nampaknya mulai dilirik oleh Pemerintah Pusat (Pempus) melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Ini dibuktikan, Bupati Danny Missy diundang oleh Kemendikbud untuk menjadi pembicara Talkshow Coofee Break yang disiarkan langsung stasiun Tv One, Senin (20/7/2020).

Danny saat diundang menjadi pembicara memaparkan, Maluku Utara merupakan daerah yang memiliki kekayaan rempah seperti, cengkih, pala, lada yang zaman dahulu diperebutkan oleh Portugis, Belanda Spanyol dan bangsa-bangsa lain, sehingga wilayah Maluku Utar dinamakan jalur rempah, olehnya itu harus ada kerjasama antar daerah untuk mengangkat kembali sejarah kepualaun rempah.

”Untuk kabupaten Halbar, sendiri dalam rangka bagaimana kita meningkatkan kapasitas pemahaman terhadap jalur rempah ini, kami menggandeng javara membutuhkan olahan makanan dari rempah, seperti teh rempah, kopi rempah, kue rempah yang berasal dari pala dan cengkeh, sehingga bisa dikemas dalam bentuk makanan atau minuman yang ditingkatkan hingga pada tahapan ekspor,” ungkap Danny.

Link Banner

Ketua DPC PDI-Perjuangan Halbar ini berharap, apa yang telah dia canangkan terkait potensi rempah di Maluku Utara, lebih khusus di Halbar bisa diteruskan terkait budidaya pala, cengkeh, kayu manis dan lain sebagainya dan yang saat ini telah dilakukan adalah membuat kebijakan dari sektor pertanian dengan membuat program menanam pala dan cengkeh di areal perkebunan masyarakat.

Baca Juga  Keluarga Berkuasa Sudah Waktunya, Janganlah Diragukan Lagi

”Di Halbar, kita melaksanakan beberapa kegiatan dalam rangka merefleksi kembali jalur rempah dengan cara membuat kegiatan festival,” katnya.

Festival yang saat ini sudah mendunia, kata Ketua HKTI Malut ini, FTJ mengangkat tentang kebudayaan festival kepulauan rempah yang mengangkat tentang potensi rempah di wilayah Halbar dan festival 7 suku (rera tumding) yang di sponsori langsung Dirjen Kebudayaan, sehingga dari festival yang telah dibuat itu dengan tujuan mentransfer kepada generasi muda agar mereka mengingat kembali tentang sejarah rempah rempah dan dijadikan bagian dari potensi budaya.

”Dari berbagai kegiatan festival yang kita angkat, dengan sendirinya muncul permainan tradisional dan ada juga bahasa bahasa yang sudah hampir punah itu muncul lagi dan inilah yang harus kita kembangkan dalam rangka mengulas kembali sejarah rempah dan ketersambuangan budaya di Indonesia Timur,” jelasnya.

Baca Juga  Kunjungi Pulau Morotai, Komisi I DPRD Malut Bahas Aset Provinsi yang Terbengkelai

Sementara Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyatakan, target Kemendikbud di tahun 2024, ingin mendominasikan jalur rempah menjadi warisan dunia yang diakui oleh UNESCO dan Kebijakan dari kemendikbud terkait dengan jalur rempah, dalam dua tahun terakhir ini telah melakukan pendataan, riset mengumpulkan hasil-hasil dan temuan-temuan di lapangan mengenai sejarah dan mengumpulkan data.

”Harapan dalam program ini kedepannya adalah kita ingin sekali jalur rempah ini bukan hanya untuk kepentingan sejarah yang sifatnya masa lalu, tetapi juga untuk jaman sekarang,” katanya.

Hilmar mengaku, problem saat ini seperti Covid-19, harus meningkatkan daya tahan tubuh dan rempah-rempah ini manfaatnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, jadi rempah-rempah ini punya peran yang sangat luar biasa dan saat ini mulai diexplorasi oleh kementerian pertanian, kementerian kesehatan untuk kepentingan riset.

Baca Juga  Pemprov Maluku Umumkan Pasien Covid-19 Pertama di Ambon

”Kita berharap potensi rempah yang kita miliki saat ini punya kontribusi terhadap kesehatan global dan itu sudah dilakukan selama ratusan tahun, dan rempah-rempah ini punya khasnya bermacam macam digunakan baik di dalam makanan, pengobatan herbal. Negeri dengan keanekaragaman budaya yang luar biasa, tidak seperti tambang, kalau semakin digali semakin habis kalau budaya semakin digali semakin banyak yang keluar, jadi ini saya kira untuk masa depan Indonesia,” pungkasnya. (ash)