Hetharia: UKIM Harus Jadi Kampus Merdeka yang Berkarakter Kristiani

oleh -162 views
Link Banner

Porostimur.com – Ambon: Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) periode 2021-2025 terpilih, Henky Herzon Hetharia mengungkapkan, terpilihnya Ia untuk memimpin UKIM, bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga menjadi tantangan.

Hetharia berjanji akan memaksimalkan semua potensi yang ada untuk bergerak secara bersama guna mengembangkan UKIM kedepan.

“Saya sendiri melihat ini bukan saja sebuah kepercayaan, tetapi juga sebuah tantangan untuk mengembangkan UKIM di periode berikut, ketika perguruan tinggi sedang menghadapi persoalan tantangan termasuk Covid-19 tetapi juga peningkatan kualitas-kualitas perguruan tinggi. Nah, ini tantangan bagi saya sebagai rektor terpilih,” kata Hetharia, Ahad (17/10/2021).

Hetharia mengungkapkan, dirinya terpilih menjadi rektor karena kehendak Tuhan.

“Saya terpilih karena Tuhan berkehendak. Saya dipercayakan oleh senat dan Yayasan Perguruan Tinggi (Yaperti) GPM ini karena kehendak Tuhan,” ujarnya.

Hetharia menilai calon-calon rektor lainnya juga memiliki kualitas. Namun kali ini dirinya yang diberikan kepercayaan untuk memimpin UKIM.

Baca Juga  Fomatara Akan Gelar Curah Gagasan 21 Tahun Provinsi Maluku Utara

“Kita bersyukur bahwa calon-calon rektor yang tadi itu, sesungguhnya semuanya memiliki kualitas hanya kali ini mungkin mempercayakan kepada saya, tetapi sesungguhnya semua mempunyai kualitas, bahkan UKIM ini memiliki sumber daya yang Tuhan sudah anugerahkan,” tandasnya.

Lanjut Hetharia, dengan kepercayaan yang diberikan untuk menakhodai UKIM maka dirinya akan memaksimalkan seluruh potensi yang ada untuk bergerak bersama.

“Ini bukan kemenangan saya pribadi, ini kemenangan UKIM, kemenangan bersama dan karena itu seluruh potensi UKIM ini harus digerakkan bersama di tengah-tengah tantangan baik situasi pandemi ini, baik tantangan untuk memajukan perguruan tinggi sebagai sebuah perguruan tinggi yang berkualitas,” katanya.

Dikatakan, UKIM sudah dikenal sebagai Kampus Orang Basudara. Dalam konsep ini, walaupun UKIM merupakan universitas Kristen yang didirikan oleh GPM, tetapi misi untuk mencerdaskan bangsa dijalankan sebagaimana amanat UUD 1945.

Baca Juga  Kapolda turun tangan atasi macet di Mardika

“Ini misi yang juga dikembangkan oleh UKIM. Kita tidak hanya mencerdaskan orang Kristen, kita mencerdaskan seluruh orang Indonesia, agama apapun yang masuk, baik sebagai dosen dalam hal mengajar, ataupun mahasiswa yang berkuliah. Di kampus kita ini beragam etnis tetapi juga agama,” katanya.

Ditambahkan, saat ini UKIM harus bersyukur, karena di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, UKIM adalah perguruan tinggi swasta yang punya kualitas tertinggi dari perguruan tinggi swasta lainnya, namun aspek kualitas harus dijaga dan lebih ditingkatkan. 

Dalam misinya, lanjut dia, persoalan karakter karena yang diinginkan bukan hanya menghasilkan sarjana yang pintar saja tetapi Karakter yang diutamakan. 

“Katong (kita)  tidak ingin hanya menghasilkan sarjana yang pintar tetapi hilang karakter,  pikiran ini untuk mewujudkan apa yang jadi visi presiden Jokowi soal karakter anak bangsa. UKIM harus turut berkontribusi bagi bangsa dengan penguatan karakter barulah kualitas,” tukasnya. 

Baca Juga  Dinas Pariwisata Kabupaten Buru buka Bimtek tata kelola destinasi pariwisata

Hetharia menambahkan, dirinya akan mendorong UKIM untuk berkolaborasi dalam menerapkan kebijakan Kampus Merdeka. “Kita harus berkolaborasi pada era ini, khususnya dalam penerapan Kampus Merdeka pada era adaptasi kebiasaan baru ini,” ujarnya.

Menurutnya, pada dasarnya tidak ada perguruan tinggi yang dapat hidup sendiri, tetapi perlu berkolaborasi yang saling menguntungkan.

“Persaingan memang dibutuhkan untuk tetap ada, tetapi itu tidak ada gunanya. Kita harus berkolaborasi, karena tidak ada yang bisa hidup sendiri.”

Praktik kolaborasi tersebut, dapat dimulai dari individu dan hal sederhana. Dosen dan mahasiswa dapat menjadi ujung tombak untuk memulai kolaborasi.

Kolaborasi dimulai dari hal kecil yang tidak perlu birokrasi rumit seperti publikasi bersama, penelitian bersama, bahan ajar bersama, dan lainnya. “Perguruan tinggi harus jeli dalam melihat dan menciptakan peluang,” kata dia. (keket)