Dalam misinya, lanjut dia, persoalan karakter karena yang diinginkan bukan hanya menghasilkan sarjana yang pintar saja tetapi Karakter yang diutamakan.
“Katong (kita) tidak ingin hanya menghasilkan sarjana yang pintar tetapi hilang karakter, pikiran ini untuk mewujudkan apa yang jadi visi presiden Jokowi soal karakter anak bangsa. UKIM harus turut berkontribusi bagi bangsa dengan penguatan karakter barulah kualitas,” tukasnya.
Hetharia menambahkan, dirinya akan mendorong UKIM untuk berkolaborasi dalam menerapkan kebijakan Kampus Merdeka. “Kita harus berkolaborasi pada era ini, khususnya dalam penerapan Kampus Merdeka pada era adaptasi kebiasaan baru ini,” ujarnya.
Menurutnya, pada dasarnya tidak ada perguruan tinggi yang dapat hidup sendiri, tetapi perlu berkolaborasi yang saling menguntungkan.
“Persaingan memang dibutuhkan untuk tetap ada, tetapi itu tidak ada gunanya. Kita harus berkolaborasi, karena tidak ada yang bisa hidup sendiri.”
Praktik kolaborasi tersebut, dapat dimulai dari individu dan hal sederhana. Dosen dan mahasiswa dapat menjadi ujung tombak untuk memulai kolaborasi.
Kolaborasi dimulai dari hal kecil yang tidak perlu birokrasi rumit seperti publikasi bersama, penelitian bersama, bahan ajar bersama, dan lainnya. “Perguruan tinggi harus jeli dalam melihat dan menciptakan peluang,” kata dia. (keket)




