Revolusi 1979 bukan sekadar pergantian penguasa, melainkan penolakan terhadap sebuah sistem yang dianggap terlalu jauh dari akar sosial dan keagamaan masyarakat Iran. Ingatan sejarah seperti itu tidak mudah dihapus hanya oleh perubahan generasi.
Karena itu, setiap seruan yang menggambarkan Iran seolah menunggu kepulangan seorang pewaris takhta cenderung terasa lebih sebagai—sekali lagi—romantisme politik daripada pembacaan kenyataan. Iran hari ini adalah negara yang telah berubah jauh dari masa monarki. Generasi yang hidup sekarang tumbuh sepenuhnya di bawah Republik Islam, dengan pengalaman politik dan identitas nasional yang berbeda dari masa Shah.
Masa depan Iran, apa pun bentuknya kelak, kemungkinan besar akan lahir dari pengalaman generasi itu sendiri, bukan dari nostalgia masa lalu.
Sebagian orang Iran mungkin kecewa terhadap pemerintahan ulama, tetapi itu tidak otomatis berarti mereka ingin kembali ke masa Shah. Ingatan tentang monarki Pahlavi masih bercampur antara nostalgia dan trauma. Modernisasi yang cepat memang pernah terjadi, tetapi juga disertai represi politik dan ketergantungan yang dalam pada Amerika Serikat. Karena itu, setiap seruan Reza Pahlavi selalu membawa bayangan lama: sebuah Iran yang pernah dianggap terlalu dekat dengan kekuatan asing.










