“Sekalipun Pertamina punya negara, saya tidak meminta untuk kalian kerjanya lambat. Harus cepat,” ujarnya.
Impor Minyak Masih 750 Ribu Barel per Hari
Desakan Bahlil berangkat dari besarnya kesenjangan antara kebutuhan dan produksi minyak nasional. Ia menyebut konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru berkisar 600 ribu hingga 650 ribu barel per hari.
Program biodiesel B50 diperkirakan dapat menutup kebutuhan setara sekitar 250 ribu hingga 300 ribu barel per hari. Meski demikian, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 700 ribu hingga 750 ribu barel minyak per hari.
“Pekerjaan yang masih berat sekali bagi kami adalah bagaimana meningkatkan lifting,” kata Bahlil.
Ia menilai momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat peningkatan produksi. Kenaikan harga minyak dunia dan menguatnya permintaan global menjadi faktor yang perlu diperhitungkan pelaku industri.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik mendorong setiap negara mengamankan kebutuhan energinya masing-masing. Persaingan mendapatkan pasokan minyak, menurut Bahlil, berpotensi memicu ketegangan di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.
Sumur Tua Jadi Tantangan, KKKS Diminta Berinovasi
Di sisi lain, peningkatan produksi minyak nasional menghadapi tantangan karena sebagian besar sumur minyak Indonesia telah berusia tua. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan lifting nasional dalam satu dekade terakhir.









