Iri Hati

oleh -68 views
Link Banner

Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan Jurnalis

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenar-benarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra nabi Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil)tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, ‘Sesungguh, aku pasti membunuhmu!’ Dia(Habil) berkata ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertaqwa.” (Al-Ma’idah: 27).

Sifat iri adalah kesedihan yang mendalam karena kelebihan yang dimiliki seseorang. Orang yang iri hati akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencelakakan orang lain. Karena tujuannya adalah melenyapkan kelebihan yang dimiliki orang tersebut. Irinya iblis kepada Nabi Adam. as merupakan dosa pertama kali yang diperbuat diatas langit.

Karena iri hati, Iblis laknatullah menghasut Adam As untuk makan buah kuldi agar memiliki kerajaan yang tidak pernah berakhir (hidup abadi) di surganya Allah. Al-Baqarah ayat 36: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. Adam. As dipercepat turun ke bumi karena memiliki keserakahan dalam hatinya akibat bujuk rayu iblis yang iri hati.

Karena sifat iri pula, terjadilah pertumpahan darah antara Qabil dan Habil, dan itu merupakan perbuatan dosa pertama kali yang dilakukan dimuka bumi. Iri hati yang dilakukan Qabil dan Habil yang merupakan anak nabi Adam As, yang satu mendapatkan nikmat dari Allah dengan diterima kurbannya sedangkan yang satu kurbannya tidak diterima Allah. Mereka saling membunuh karena rasa iri hati. Sebagaimana Surat Al-Maidah ayat 27: yang sengaja saya kutip di atas.  

Baca Juga  Memaknai Kekuasaan

Alquran menyindir seseorang yang memiliki penyakit hati dengan sebutan orang munafik. Di hati orang munafik itu ada penyakit. Allah tidak menghilangkan penyakit itu tetapi justru menambahnya (fii quluubihim maradhun fazaada humullahu maradhaa).

Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki: Nabi SAW bersabda, “Jauhilah oleh semua sifat dengki/iri hati itu, karena sesungguhnya sifat dengki/ iri itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan sebagaimana api menghabiskan kayu bakar ” (HR Abu Dawud)

Dalam Islam, iri hati merupakan salah satu penyakit hati yang dibenci dan dilarang Allah. Seperti halnya ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an berikut ini: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’ ayat:32).

Baca Juga  Forkopimda Halbar Gerakan Menanam Padi di Tengah Persoalan Covid-19

Iri hati adalah salah satu penyakit yang bersemayam di dalam hati tiap manusia. Untuk itu kita harus berupaya memperbaiki hati. Nabi Menyatakan: Kalau dia baik maka baik seluruhnya tapi kalau dia buruk maka buruk seluruhnya, itulah hati. Oleh karena itu ada satu penyakit yang akan menghancurkan seluruh dari amal kita yakni iri hati. Rasullullah bersabda: “Sungguh iri hati akan menghabiskan seluruh perbuatan kebaikanmu bagaikan api yang membakar kayu bakar”.

Iri hati selalu mengarahkan kepada seseorang agar melakukan tindakan yang buruk, misalnya: merasa dirinya paling hebat, ingin memiliki harta orang lain dan bahkan mengajak untuk membunuhnya.

Rassullullah menceritakan kepada para sahabatnya tentang iri hati, Rasul menyatakan tiga manusia yang hidupnya akan celaka dunia dan akhirat yakni: iri hati, takabur, dan serakah. Maka dari itu hendaklah kita menjauhkan diri kita dari sifat iri hati, sombong dan rakus, karena ketiga sifat ini merupakan sumber dari segala macam kemaksiatan.

Patut kita renungkan bersama bahwa rasa iri sebenarnya tidak pernah ada untungnya sama sekali. Yang ada hanya derita di dalam hati. Orang yang iri hati sama saja tidak suka pada ketentuan atau takdir Allah. Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dipakai guna menghilangkan penyakit iri hati ini:  

Baca Juga  Turki Masuki Era Sejarah Baru

Pertama, bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah diterimanya. Kedua, sabar atas segala takdir yang telah ditentukan Allah. Ketiga, terus berkarya tanpa berpikir akan menjadi apa. Ketika seseorang terus berkarya, pasti salah satu karyanya akan menjadi sesuatu yang monumental. Manusia sekadar mencocokkan nasib dengan apa yang ditakdirkan Allah sejak zaman azali.

Ada baiknya kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: “Saya tidak pernah mendengki kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga, maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga. Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia sedang berjalan menuju ke Neraka.”Walakum

Sesungguhnya kebaikan atau keburukan yang akan menimpa seseorang, Allahlah yang menentukan. Kita mempunyai hak dan tanggungjawab untuk memilah dan memilih jalan hidup untuk kita sendiri.

Apapun hal yang menimpa diri seorang yang beriman adalah kebaikan, jika itu suatu musibah ia akan sabar, jika yang didapatkan anugerah ia akan bersyukur, keduanya akan mendapat kebaikan disisi Allah SWT.

Baarokalloohu Lii Walakum. (*)