Kekurangan Informasi dan Kepercayaan yang Runtuh
Banyak warga desa bahkan tidak mengetahui trase jalan yang melintasi wilayah mereka. Minimnya konsultasi publik menciptakan asimetri informasi yang besar, memicu rasa tidak percaya. Dalam teori konflik, ketidakseimbangan informasi adalah pemicu utama eskalasi. Ketika masyarakat merasa diabaikan, jalan yang seharusnya menghubungkan justru memisahkan, tidak hanya fisik tetapi juga sosial.
Konflik Struktural dan Kekerasan Sistemik
Proyek ini juga menampilkan konflik struktural. Kebijakan yang membingungkan, status hukum yang tidak transparan, dan dana bagi hasil yang belum dibayarkan menciptakan ketegangan antara legislatif, masyarakat, dan pemerintah daerah. Kritik DPRD terhadap kurangnya transparansi dan dasar hukum proyek menunjukkan adanya structural violence: kekerasan sistemik yang muncul dari kebijakan yang mengabaikan hak kelompok tertentu.
Ancaman Identitas dan Ruang Hidup Masyarakat Adat
Bagi masyarakat adat O’Hongana Manyawa, hutan adalah identitas, sejarah, dan kosmologi. Jalan yang menembus hutan berarti mengikis akar eksistensi mereka. Konflik berbasis identitas lebih sulit diatasi karena yang dipertaruhkan bukan hanya materi, tapi eksistensi. Jalan ini berpotensi menjadi luka yang jauh lebih dalam daripada yang tampak.
Risiko Lingkungan dan Konflik Ekologis
Jalan yang memotong hutan sering menjadi pemicu deforestasi, pembukaan lahan baru, dan masuknya industri ekstraktif lebih jauh ke pedalaman. Hal ini bukan sekadar risiko ekologis, tetapi juga sosial. Hilangnya sumber daya alam memunculkan konflik horizontal antarwarga dan vertikal antara masyarakat dengan pemerintah. Jika lingkungan rusak, tuntutan pertanggungjawaban menjadi tak terelakkan.









