Air Mata Hutan, Amarah Tanah

oleh -45 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Sumatera menangis malam itu. Hujan turun seperti air mata hutan yang tak lagi sanggup menyimpan deritanya. Tanah runtuh, sungai meluap—alam seakan mengatakan, bahwa kesabarannya telah habis.

Ketika hujan turun di Sumatera pekan ini, ia tidak datang sebagai rahmat, melainkan sebagai teguran yang pahit. Langit seperti kehilangan kesabaran, dan bumi yang sejak lama kita paksa menahan derita, akhirnya merelakan dirinya pecah di hadapan kita.

Banjir menyapu kampung-kampung yang polos. Longsor menggulung tanah yang tak pernah meminta apa pun selain diperlakukan dengan hormat. Kita, manusia memang pongah, mengira musibah ini hanyalah urusan cuaca. Padahal air bah itu jatuh dengan sejarah yang kita ciptakan sendiri.

Sumatera hari ini adalah tubuh besar yang memar oleh ulah anak-anaknya.

Setiap lumpur yang menelan rumah adalah dakwaan. Alam sebenarnya bukan pendendam; ia hanya sedang mengembalikan keseimbangan yang kita goyangkan dengan ketololan kolektif. Kita fasih menyalahkan nasib, tetapi gagap mengakui jejak tangan kita sendiri pada setiap tragedi.

Tidak ada bencana yang lahir mendadak. Setiap banjir besar, setiap longsor, setiap sungai yang meluap adalah bab dari kisah panjang pengkhianatan manusia terhadap tanahnya sendiri. Di ruangan ber-AC, izin-izin penebangan ditandatangani dengan ringan. Sementara itu, jauh di pedalaman, gergaji mesin merayakan pesta pembantaian yang tidak pernah ditunda. Inilah panen dari benih keserakahan yang ditanam bertahun-tahun.

No More Posts Available.

No more pages to load.