Setelah itu, seorang yang dalam caption tertulis ekonom Maluku Utara, Dr Mukhtar A Adam memberikan komentarnya. Dia menegaskan bahwa penikmat tingginya perekonomian di Maluku Utara, bukannya masyarakat daerah. Namun investor asal Tiongkok alias China. Karena, angka pertumbuhan ekonomi Malut sebesar 27 persen itu, tak lebih gambaran pertumbuhan industri pertambangan di Malut. “Ekonomi yang tinggi (27 persen), penikmatnya bukan rakyat Maluku. Angka 27 persen itu tumbuhnya pertambangan dan industri. Kami tidqak menikmati karena uangnya ke luar semua,” tuturnya.
Selanjutnya, dia menyebut Tiongkok atau China yang paling beruntung. Kekayaan alam berupa bahan tambang asal Malut membuat pengusaha China kaya raya, sementara rakyat Maluku Utara tetap saja miskin. “Yang menikmati China. Dari investasi ekspor meningkat. Yang bergerak di Halmahera dalah sektor tambang,” tuturnya.
Dia pun mempertanyakan data BI yang merilis inflasi di Kota Ternate hanya 3,3 persen. “Pak presiden bisa cek juga, konsumsi rumah tangga kami cuma 2,1 persen. Bahkan konsumsi kuartal III minus nol koma sekian,” ungkapnya.
Bisa jadi, selama ini, Provinsi Malut lah yang berkontribusi terhadap majunya perekonomian China. Kekayaan alam yang dikuras China membuat negeri itu menjelma menjadi negara berekonomi kuat. Sementara rakyat Malut hanya kebagian sisa. Karena, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi masih menjulang di Malut.




