Oleh: Ahmad Humam Hamid, Guru besar UIN Syah Kuala Banda Aceh
Di Aceh, kabar besar sering tiba di warung kopi sebelum sempat dijelaskan oleh kantor pemerintah. Orang baru saja mengangkat cangkir, telepon genggam berbunyi, lalu seorang menteri sudah menjadi mantan. Kopinya belum habis, analisis politik di meja sebelah biasanya sudah tiga macam.
Begitulah nasib Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin, 14 September 2026. Siang hari ia masih menjalankan tugas sebagai Menteri Keuangan dan menghadiri rapat dengan DPD. Menjelang sore, Suahasil Nazara sudah dilantik Presiden Prabowo Subianto menggantikannya. Ada pelajaran kecil di situ: di dalam kabinet, umur kartu nama kadang lebih pendek daripada rapat yang baru saja dipimpin.
Penjelasan substantif mengenai pergantian itu tidak banyak. Keputusan dibacakan, pejabat baru dilantik, tangan dijabat, kamera bekerja. Setelah itu publik melakukan apa yang biasa dilakukan publik Indonesia kalau informasi resmi tidak mencukupi: menafsirkan sendiri.
Alasan pergantian menteri di negeri kita kadang mirip resep gulai kalio ayam Padang. Ayamnya kelihatan, santannya jelas, aromanya sampai ke meja. Tetapi berapa banyak cabai, lengkuas dan bumbu lain masuk ke dalam kuali, itu urusan orang dapur. Tamu cukup diberi tahu: kalionya sudah matang.









