Oleh: Ramadhan Pohan, Wartawan senior
Profesor Lely Arrianie, Guru Besar komunikasi politik LSPR, menulis di harian Kompas edisi Senin, 21 Oktober 2024. Judulnya Audisi Menteri, Era Jokowi hingga Prabowo , menyorot kabinet “gemoy” Prabowo Subianto. Lely menulis membludaknya politisi dari parpol maupun yang relasi parpol ke kediaman Prabowo. Audisi yang kemudian menjelma menjadi hubungan patron-klien antara Prabowo yang menyediakan kekuasaan dan fasilitas dengan para menteri dan wamen yang menyiapkan loyalitas dan pengabdian.
Lalu majalah mingguan Tempo, edisi 21-27 Oktober 2024 bikin cover, “Kabinet Gemoy-Gemoy”. Dituliskan, Prabowo Subiantomengingkari janjinya membent cabinet zaken. Ia mempertahankan orang kepercayaan Jojowi dan merekrut banyak politikus yang tak jelas kompetensinya.
Lely dan Tempo sama-sama menyoroti Kabinet Gemoy Prabowo. Apa itu gemoy?
Gemoy merupakan bahasa gaul sehari-hari, merujuk pada sesuatu yang menggemaskan. Tetapi kalau tambun, seperti kabinet Prabwo ini, gemoy nya di mana yaa.
Tahun 2017 terbit buku Paradoks Indonesia, ditulis Prabowo menyoroti sisi-sisi paradox dari Indonesia di mana negerinya kaya raya namun rakyatnya banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi timpang. Serba ironis.









